Mamuju, elaeis.co - Komoditas ekspor produk pertanian asal Sulawesi Barat (Sulbar) kian bertambah. Untuk pertama kalinya Sulbar mengekspor bungkil inti sawit atau palm kernel expeller (PKE).

Sebanyak 3.800 ton bungkil inti sawit dengan nilai Rp 8,4 miliar dikirim melalui Pelabuhan Belang-Belang Mamuju tujuan Thailand.

Bungkil inti sawit merupakan limbah dari proses pengolahan industri minyak sawit (CPO). Bungkil ini merupakan bahan baku pakan ternak. "Di Indonesia, bungkil ini merupakan limbah namun memiliki ekonomis tinggi. Karenanya Sulbar perlu mendorong hilirisasi produk pertanian untuk meningkatkan ekspor," kata Kepala Stasiun Karantina Pertanian Mamuju, Agus Karyono.

Pj Gubernur Sulbar, Akmal Malik, mengapresiasi aktivitas ekspor di daerah itu. Menurutnya ini merupakan kolaborasi dari berbagai pihak dan diharapkan akan terus berlanjut. 

Hanya saja ia menyayangkan karena produk ekspor Sulbar masih tercatat di daerah tetangga. Pencatatan ekspor dari Sulbar selama ini dilakukan oleh Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Pare Pare, Sulawesi Selatan. "Dipastikan Dana Bagi Hasil (DBH) Sulbar dari produk ekspor itu akan dinikmati daerah lain," jelasnya melalui keterangan resmi Humas Pemprov Sulbar.

"Sampai kapan Sulbar bisa mandiri potensi sumber daya alamnya. Sampai kapan kita selalu berkontribusi ke daerah tetangga. Sulbar menyumbang pada PDRB Pare-Pare. Saya ingin menyampaikan, inilah kondisi sekarang," tambahnya. 

Itu sebabnya dia meminta Bea Cukai segera membuka kantor di Sulbar. "Ini juga berkaitan dengan pengembangan Pelabuhan Belang-Belang. Percuma pelabuhan dikembangkan jika setiap produk ekspor masih tercatat di daerah lain," kritiknya.

"Sulbar berhak untuk mengklaim produknya sendiri. Kasihan Sulbar. Sampai kapan kami akan begini terus. Dipastikan DBH bukan ke Sulbar. Akhirnya apa, APBD kita tidak akan bergerak. Makanya kita minta Bea Cukai segera berdiri di Sulbar," pungkasnya.