Tanah Bumbu, elaeis.co – Indonesia masih menghadapi persoalan serius dalam memenuhi kebutuhan daging sapi nasional. Di tengah tingginya konsumsi masyarakat, pasokan dalam negeri belum mampu mencukupi sehingga impor daging sapi masih menjadi andalan.
Kondisi ini memunculkan solusi tak terduga, yakni pemanfaatan kawasan perkebunan kelapa sawit sebagai pusat pengembangan peternakan sapi.
Harapan tersebut muncul dari Program Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi Berbasis Kemitraan Usaha Ternak Inti Plasma (SISKA KU INTIP) yang dikembangkan PT Buana Karya Bhakti di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Hanif Faisol Nurofiq, menilai integrasi sawit dan sapi berpotensi menjadi salah satu kunci untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor daging sapi.
Saat meninjau lokasi program tersebut pada Selasa (16/6), Hanif mengungkapkan populasi sapi yang awalnya hanya sekitar 300 ekor pada 2016 kini telah berkembang menjadi hampir 1.500 ekor melalui sistem pembiakan alami.
"Ini sepertinya model kecil, tetapi sebenarnya potensinya sangat besar untuk mendongkrak pemenuhan kebutuhan sapi nasional kita. Sistem breeding yang dilakukan secara alami juga terbukti efektif dan lebih efisien," kata Hanif.
Menurutnya, sistem perkawinan alami terbukti mampu meningkatkan populasi ternak secara berkelanjutan. Cara ini dinilai lebih sederhana dan efisien dibandingkan metode inseminasi buatan yang memerlukan intervensi hormon tambahan.
Kalimantan Selatan Masih Kekurangan 20 Ribu Ekor Sapi
Hanif menjelaskan, Kalimantan Selatan memiliki sekitar 480 ribu hektare perkebunan sawit. Dari jumlah tersebut, sekitar 250 ribu hektare dinilai sangat potensial untuk diintegrasikan dengan usaha peternakan sapi.
Apabila seluruh lahan potensial tersebut dimanfaatkan, sedikitnya 20 ribu ekor sapi dapat dipelihara. Jumlah itu cukup untuk menutup defisit pasokan sapi di Kalimantan Selatan yang hingga kini masih kekurangan sekitar 20 ribu ekor.
Miris Indonesia Masih Defisit Daging, Ribuan Sapi dari Perkebunan Sawit Jadi Harapan Terakhir
Diskusi pembaca untuk berita ini