Penggunaan kereta api dinilai lebih efisien dalam pengiriman CPO dibanding moda transportasi darat lainnya. Selain lebih cepat, distribusi juga lebih stabil untuk memenuhi kebutuhan ekspor maupun industri dalam negeri.
CPO dari pabrik kelapa sawit kini lebih mudah dikirim ke Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, serta kawasan industri hilir seperti KEK Sei Mangkei yang menjadi pusat pengolahan berbasis sawit.
Selain sebagai moda angkutan, sektor perkeretaapian juga mulai memanfaatkan turunan sawit sebagai energi. Saat ini, KAI Divre I Sumut telah menggunakan bahan bakar B40 untuk operasional lokomotif dan mesin pembangkit.
Bahkan, uji coba penggunaan B50 juga sedang dilakukan sebagai bagian dari transisi energi nasional dan upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Langkah ini sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong energi terbarukan berbasis kelapa sawit, termasuk untuk sektor transportasi strategis seperti kereta api.
Dengan meningkatnya volume angkutan CPO melalui kereta api, industri sawit dinilai semakin memiliki rantai distribusi yang kuat dan efisien. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia.
Ke depan, peran kereta api diproyeksikan akan semakin penting dalam menjaga stabilitas pasokan, menekan biaya logistik, dan mendukung hilirisasi industri sawit nasional.
Kereta Api Jadi Tulang Punggung Distribusi Sawit, Mampu Angkut CPO 9.800 Ton per Bulan
Diskusi pembaca untuk berita ini