Gorontalo, elaeis.co – Memasuki hari kedua Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII di Gorontalo, kawasan Gelar Teknologi (Geltek) menjadi salah satu titik paling ramai dikunjungi peserta dan masyarakat.

Ribuan pengunjung dilaporkan memadati area pameran sejak pagi, dengan salah satu lokasi yang paling menyedot perhatian adalah Warehouse Hilirisasi Perkebunan.

Sejak dibuka pukul 08.00 WITA, area ini langsung dipenuhi petani, penyuluh, mahasiswa, pelaku usaha, hingga perwakilan pemerintah daerah dari berbagai provinsi di Indonesia. 

Antusiasme pengunjung terlihat dari antrean yang terus mengalir untuk melihat langsung berbagai inovasi teknologi perkebunan yang ditampilkan.

Daya tarik utama di Warehouse Hilirisasi Perkebunan adalah teknologi bioreaktor yang diperkenalkan oleh Kementerian Pertanian RI melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, bersama Direktorat Jenderal Perkebunan dan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.

Teknologi tersebut menjadi sorotan karena menawarkan solusi energi alternatif berbasis minyak sawit mentah atau CPO untuk menghasilkan biosolar B100. 

Inovasi ini dinilai sebagai langkah strategis dalam mendorong transisi energi nasional berbasis sumber daya domestik, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

Banyak pengunjung terlihat antusias mengajukan pertanyaan kepada petugas dan tenaga teknis yang berjaga di lokasi. 

Mereka ingin mengetahui lebih jauh mengenai proses konversi CPO menjadi biodiesel B100, serta peluang implementasinya di daerah masing-masing.

Selain B100, pengunjung juga diperkenalkan pada pengembangan biodiesel bertahap seperti B35 hingga B50 yang tengah didorong pemerintah sebagai bagian dari penguatan bauran energi nasional.

Tidak hanya itu, pemanfaatan limbah perkebunan untuk energi terbarukan seperti biogas dan biopelet juga turut menjadi materi edukasi yang menarik perhatian.

Suasana interaktif tampak mendominasi area pameran. Diskusi antara pengunjung dan narasumber berlangsung aktif, mulai dari kalangan petani hingga akademisi dan pelaku industri.