Jakarta, elaeis.co - Tahun depan, sudah bakal ada Laboratorium Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) Kelapa Sawit di Medan Sumatera Utara (Sumut). 

Laboratorium senilai Rp75 miliar itu kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alamsyah digeber demi menghadang peredaran bibit kelapa sawit palsu yang kian meresahkan. 

"Inilah salah satu bukti keberpihakan kami kepada petani kelapa sawit," kata lelaki 47 tahun ini saat memberikan arahan pada rapat rencana revisi Permentan 1 tahun 2018 di ruang rapat Dirjenbun di Gedung C, komplek Kementerian pertanian Jakarta, kemarin. 

Lelaki kelahiran Pinrang Sulawesi Selatan (Sulsel) ini nampak sangat bersemangat mengurai apa-apa saja yang sedang dan akan dia lakukan untuk 'menggendong' petani kelapa sawit. 

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) sendiri tak memungkiri kalau saat ini banyak berseliweran bibit-bibit palsu. Tak terkecuali di sejumlah lapak online.  

Baca juga: Sah! Revisi Permentan 1 Tahun 2018 Sepakat Direvisi. Ini Harapan Dirjenbun 

"Inilah yang menjadi masalah besar itu. Di satu sisi kami sangat mendorong suksesnya program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Tapi di satu sisi, bibit palsu ini musti jadi perhatian serius," kata Ketua Bidang Kemitraan dan Pembinaan Petani GAPKI, Suryanto Bun, yang hadir di ruang rapat itu. 

Saking meresahkannya peredaran bibit palsu itu, GAPKI berharap ada peluang Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bisa membiayai pemberantasan bibit palsu ini. 

"Ini sangat perlu lantaran efek dari bibit palsu ini akan sangat besar, akan kelihatan setelah bibit itu tertanam 5-10 tahun ke depan," katanya.     

Sayang, sampai rapat itu usai, belum mencuat ada berapa banyak bibit palsu yang beredar dan di mana saja bibit-bibit itu telah tumbuh.