Pekanbaru, elaeis.co - Pola kerjasama atau kemitraan adalah langkah yang paling tepat dalam industri kelapa sawit. Bahkan kemitraan dinilai suatu keharusan agar kesejahteraan dalam berkebun kelapa sawit terwujud maksimal.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Togu Saragih selaku Perancang Peraturan Ahli Madya Direktorat Jenderal Perkebunan Kementan dalam gelaran Dialog Sawit Memperkuat Inti Plasma dan Bedah Buku Setiyono, Rabu (1/7).
Cerita Togu, pola kemitraan telah digaungkan pihaknya sejak dahulu. Ini bertujuan mendukung kesejahteraan petani. Sebab dalam kemitraan terjalin saling mendukung antara perusahaan dan petani kelapa sawit. Lalu juga saling ketergantungan antara keduanya.
"Pada pola ini harga sawit akan lebih stabil lantaran adanya pembinaan dan pendampingan dari perusahaan untuk menghasilkan produksi yang bagus," ujarnya dalam dialog tersebut.
Kedepan lanjutnya, kemitraan adalah keniscayaan. Sebab kecenderungan kebun sawit rakyat yang mengalami peningkatan sejalan dengan kebijakan moratorium. Kemudian adanya tuntutan peningkatan produksi dan produktifitas nasional dalam segala aspek (kuantitas dan kualitas).
Belum lagi ada tuntutan praktik sustainbility bagi industri sawit indonesia. Terakhir lahirnya kebutuhan revitalisasi perkebunan rakyat, terutama bagi kebun yang sudah tua
Kendati begitu, menurut Togu kemitraan harus didasari dengan prinsip- prinsip kerjasama. Misalnya menghargai keragaman, untuk mengatasi kekhawatiran akan perbedaan-perbedaan yang terjadi diantara para mitra. Kemudian harus bersikap transparan, yaitu keterbukaan dan kejujuran mengenai kepentingan dan harapan masing- masing pihak.
" Prinsip lain yakni membangun keberanian untuk mengatasi ketidakpastian pada saat membangun kemitraan. Kemudian mengusahakan kesetaraan untuk mencegah terjadinya ketimpangan kekuasaan dalam kemitraan. Terkahir menciptakan manfaat bersama agar menghindari persaingan di antara para mitra," terangnya.
Dari kemitraan yang terjalin, banyak keuntungan yang didapat petani kelapa sawit. Seperti mendapatkan transfer teknologi melalui bimbingan teknis (pelatihan) dan pendampingan. Kesejahteraan petani juga terjamin dengan peningkatan hasil produksi.
Selain itu membantu terciptanya transparansi dan akuntabilitas kemitraan yang memungkinkan akses yang lebih besar kepada sumber daya. Lahirnya kesepahaman, kompetensi, produktivitas, dan kinerja bisa dikelola dengan baik di antara berbagai pihak agar roda produksi berjalan signifikan sesuai yang diharapkan. Lalu membantu terciptanya transparansi akuntabilitas.
Pola kemitraan yang sampai saat ini masih terjaga adalah pola PIR yang masih dijalankan oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspek-Pir). Pola plasma ini terbukti menciptakan petani yang sejahtera dan bangkit dari keterpurukan.
Ini dituangkan dalam buku Setiyono yang menceritakan sejarah petani kelapa sawit transmigrasi dan berhasil membangun sistem perkebunan dengan pola kemitraan.
Pola Kemitraan Langkah terbaik Dalam Berkebun Kelapa Sawit
Diskusi pembaca untuk berita ini