Bogor, elaeis.co -- Selingan segar dan kocak mewarnai Workshop dan Sosialisasi Hasil Kajian dan Studi yang digelar Fortasbi di Hotel Royal Bogor, Kamis, 25 Juni 2026. Workshop bertajuk "Bagaimana Petani Swadaya Kelapa Sawit Memimpin Produksi Rendah Emisi Melalui Konservasi Hutan dan Praktik Pertanian Regeneratif"  yang sarat data itu mendadak berubah menjadi panggung penuh riuh dan gelak tawa.

Biang keladinya? Sebuah permainan sederhana "Tangkap Hewan Buas" yang dipandu oleh sang moderator “usil”, Roestanto Suprapto dari WRI Indonesia. Momen cair ini meledak tepat sebelum sesi kedua dimulai, sembari menunggu kedatangan narasumber. Guna mengusir kantuk pasca-makan siang, Roestanto meminta seluruh peserta berdiri dan merapat membentuk lingkaran besar.

"Supaya tidak mengantuk, kita main sebentar," ujarnya, disambut senyum penuh selidik dari para peserta. Aturannya sederhana namun menguji refleks. Setiap peserta wajib mengangkat jari telunjuk tangan kiri tegak lurus ke atas sebatas bahu. Sementara itu, telapak tangan kanan dibuka lebar, diletakkan persis di atas ujung telunjuk peserta di sebelah kanannya.

Jari telunjuk dipersonifikasikan sebagai "hewan buas" yang harus kabur, sedangkan telapak tangan kanan bertugas sebagai "perangkap" yang siap mencengkeram begitu moderator meneriakkan nama satwa tertentu. Uniknya, empat satwa yang dipilih bukan sembarang nama. Mereka adalah ikon dari materi penelitian sesi pertama workshop yang lebih berwujud diskusi tersebut: harimau, gajah, badak, dan beruang.

Di sinilah keusilan Roestanto dimulai. Bukannya langsung menyebut nama hewan, ia justru bermain-main dengan suku kata awal untuk mengelabui konsentrasi peserta yang mulai mengendur.

"…hariiiii..." ucap Roestanto.

Tep! Tep! Spontan, belasan telapak tangan kanan peserta langsung menjepret ke bawah, berusaha menangkap telunjuk rekannya. Mereka yakin seratus persen kata selanjutnya adalah harimau. Namun, yang keluar dari mulut moderator ternyata bukan itu. "...hariii ini kita akan mengadakan permainan dulu..," ucap Roestanto sembari tergelak pula.

Gerrr! Ruangan seketika pecah oleh tawa. Banyak yang tersipu karena refleksnya terlalu dini. Belum sempat peserta menata kembali fokusnya, Roestanto kembali melancarkan serangan psikologis kedua. "…baaaa..." aba-abanya menahan ritme.

Sekali lagi, peserta terkecoh. Kamar seminar kembali gaduh oleh bunyi tepukan tangan yang panik karena mengira "badak" akan lewat. Sialnya, kalimat kelanjutannya ternyata "...baaa-nyak sekali masukan menarik dari peserta..."

Tawa kembali meledak, kali ini lebih keras. Semakin lama permainan berlangsung, insting peserta justru makin kacau. Kecepatan tangan bergerak jauh mendahului logika berpikir. Beberapa peserta bahkan mulai saling menggoda dan menyalahkan refleks temannya yang terlalu agresif.

Meski hanya berlangsung beberapa menit, permainan singkat ini sukses merombak total energi di dalam ruangan. Ketegangan mencerna paparan ilmiah luntur seketika, berganti atmosfer yang hangat dan akrab.

Kuis berhadiah

Keseruan ternyata tidak berhenti di situ. Usai sesi kedua berakhir, sebagai pemungkas seluruh rangkaian acara, panitia kembali memancing antusiasme lewat kuis berhadiah yang tidak kalah menggelitik.

Sebanyak 10 amplop putih, masing-masing berisi "uang penyegar" senilai Rp200.000, dilambai-lambaikan panitia, memancing antusiasme. Syarat mendapatkannya? Cukup menjawab pertanyaan seputar materi workshop—mulai dari konsep karbon organik tanah hingga masa depan sawit berkelanjutan.

Namun, dasar panitia, mereka menyelipkan pertanyaan jebakan yang mengundang tawa, terlebih Roestanto memang sangat piawai memancing tawa. Setelah melontarkan pertanyaan seputar materi workshop, beberapa peserta justru diminta menyebutkan kembali empat satwa di permainan "Tangkap Hewan Buas", bahkan ada yang ditantang menirukan suaranya di depan mikrofon.

Beragam ekspresi pun muncul. Ada peserta yang menjawab dengan nada mantap ala peneliti, namun tidak sedikit yang gugup, salah menjawab, lalu “ngomel-ngomel “ karena gagal mendapat hadiah. Ruangan pun kembali dipenuhi gelak tawa penonton.

Keceriaan kolektif ini menjadi penutup yang manis bagi sebuah lokakarya yang intens membahas masa depan lingkungan. Workshop yang diselenggarakan Fortasbi kali ini membuktikan satu hal: data ilmiah memang bertugas memperkaya isi kepala, namun tawa dan kebersamaanlah yang membuatnya menetap lama di dalam ingatan.-