https://www.elaeis.co

Berita / Pojok /

Kecerdasan Bisa Saja Artifisial, Tapi Kegagapan Kita Tidak

Kecerdasan Bisa Saja Artifisial, Tapi Kegagapan Kita Tidak

Wicaksana. foto: dok. pribadi


Tahun 2019 --- dalam salah satu ‘Panopticon' --- di Sentul, saya diundang pada sebuah diskusi. Seorang pemateri harus jauh-jauh diundang; Simon See. 

Saat itu beliau diundang untuk membahas bagaimana peradaban manusia yang sarat akan konflik dan memiliki potensi untuk membawa hasrat animalistic-nya kepada peperangan. 

Berbekal keahlian dan area kerjanya --- Simon pada saat itu menjabat sebagai Director and Chief Solution Architect Nvidia AI --- beliau menjelaskan kalau kecerdasan buatan yang terus dikembangkan akan mengisi ruang kosong pada aspek-aspek peperangan dan juga pertahanan. Meski pun penggunaan AI (dan segala hal yang robotic) pada strategi perang dan pertahanan akan bergantung pada doktrin perang dan komando masing-masing satuan.

Tapi, lagi-lagi, sejak hari itu sampai kini, pembahasan mengenai kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kita selalu dibawa pada narasi-narasi post-apokaliptik sebagaimana film sci-fi membahasnya --- dan kita (memilih untuk) terjebak di dalamnya. 

Pada hari yang sama itu, saya menodong Simon; bisakah kita mengunduh skill melalui AI ini, sehingga kita tidak perlu repot belajar lagi? Bisakah kita membentuk algoritma sebagaima ‘algoritma’ pada sisi emosional manusia?

Simon menjawab singkat; download skill? Absolutely not. Cracking algorithm? Secara teoretis, itu bisa saja terjadi. Tapi, jauh, sangat jauh sekali kita untuk mencapai ke sana.

Tentu saja Simon akan menjawab seperti itu, karena ide tentang distopia ketika manusia tergantikan oleh spesies baru yang digital dan virtual, lebih surreal dibanding cita-cita Marx. 

Sebab, tragedi yang ada pada era ini agama tidak lagi dianggap sebagai candu rakyat (opiate of the masses), tapi sebagai doping; masyarakat modern pergi mencari jadi diri melalui praktik dan ritual keagamaan agar tetap semangat pergi bekerja di bawah kesadaran palsu yang dibuat oleh tangan-tangan kapitalisme. Semacam memberikan validasi ilahiah untuk hidup melanggengkan komersialisasi esktrem.

Terjebaknya kita pada narasi dan pembahasan distopia mengenai robot dan AI, pada dasarnya tidak lebih dari eskapisme. 

Dalam upaya pencarian jalan keluar dari suntuknya kehidupan manusia atau meminjam bahasa Yusmar; kehidupan dijadikan peristiwa kantoran.

Baca juga: Mungkinkan Manusia Digantikan Robot?

Wajar saja, kita akhirnya memanifestasikan rasa suntuk (dan pesimisme akut) itu melalui perbincangan-perbincangan absurd tentang dunia yang dipimpin oleh pemerintahan neootoritarian kecerdasan buatan.

Lantas, mengapa kita bisa menjadi seabsurd itu? Perbincangan, yang selalu mengarah pada invasi robot karena telah mencapai evolusinya, mengenai AI dan peradaban manusia, tampaknya ada yang tinggal --- atau premis itu sengaja ditinggalkan atau dilompati karena kenaifan kita? 

Lompatan premis itu berangkat dari perdebatan yang dengan hati-hati kita anggap selesai; apa dan bagimana itu kebenaran. Mengapa pula mengungkit perdebatan masa lalu dianggap penting untuk membahas AI?

Relevansinya terletak pada ketidakmampuan AI untuk menjadi independen. Segala hal yang AI miliki merupakan turunan dari kreativitas manusia. Sehingga, ketika manusia gagal mendefinisikan apa itu kebenaran, maka yang terjadi hanyalah peperangan persepsi; bukan ide. 

Padahal zeitgeist (semangat zaman) masa ini merupakan terhamparnya berbagai hal dalam bursa pasar ide. 
Dependensi AI untuk menerima pengetahuan dan ilmu yang kemudian dikomputasi pada akhirnya mengarah pada kegagalan AI untuk membentuk hal yang orisinil dan baru --- sebagaimana manusia; selalu mereplikasi dan merekonstruksi empirismenya menjadi sesuatu yang kita anggap baru yang pada dasarnya hanyalah sebuah kompilasi dari berbagai entitas yang sudah ada lebih dulu.

Manusia dengan ketidakterbatasan ambisinya dan kemampuannya mereplikasi Tuhan, kerap terburu-buru untuk mengatakan bahwa kebenaran bersumber dari konsensus --- tepatnya konsensus ekstrem --- dan sekali gus mengatakan kebenaran bersifat relatif. 

Ketika kita bersepakat akan sesuatu, maka sesuatu itu dijadikan kebenaran. Sangat kontradiktif secara laten.

Padahal, jika sifat akan kebenaran yang relatif itu kita aminkan, maka kebenaran yang sejati akan otomatis terbatalkan; sebab semuanya dapat dikatakan kebenaran, maka apa dan dimana kebenaran yang dicari itu? 

Jika semuanya dianggap benar yang bergantung pada persepsi manusia, maka apa yang dianggap bukan-kebenaran? Tentu, mengatakan kebenaran itu bersifat relatif merupakan bentuk kekeliuran berpikir.

Bentuk terburu-burunya manusia dalam bentuk lain dapat dilihat dari bagaimana kita kerap mengafirmasi kalau konsensus dapat dijadikan tolok ukur kebenaran

Ambil contoh misalnya dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap dicekoki dengan analogi; kita menganggap air adalah air karena kita bersepakat tentang itu. 

Padahal cara berpikir seperti itu sarat akan kerapuhan. Setidaknya, cara berpikir seperti itu luput dari pembahasan bahwa apa yang dibicarakan adalah kebendaan-itu-sendiri --- dalam terminologi Kant dengan klasifikasinya terhadap perbedaan antara Noumenon dan Phenomenon disebut “Das ding an sich” atau “Thing-at-itself”--- bukan kesepakatan akan penamaan.

Tentu, air adalah air dengan variasi penamaan manusia berdasarkan sumber pengetahuannya, bahasa menjadi salah satunya. 

Jika kesepakatan kita mengenai air membuatnya air, lalu kebenaran-nya adalah air, maka: apa itu air dan apa yang membuatnya bukan-air? (what is, and what makes not?) 

Singkatnya, menyandarkan klaim kebenaran pada konsensus-ekstrem mengarahkan kita kepada fatalisme berpikir. Terlebih ketika hanya bermodalkan persepsi untuk mencapai realitas itu sendiri. 

Dengan begitu, kebenaran sudah pasti benar secara absolut. Tentu, argumentasi ini memiliki konteks; bukan membicarakan mengenai penamaan dan preferensi yang amoral (tanpa kaidah moral, bukan tidak bermoral).

Wajar saja kita selalu menyematkan perbincangan distopia dan kekaguman sekali gus dalam pembahasan AI. Diam-diam kita ingin kabur dari pesimisme, tapi naif untuk melihat ke pembahasan paling awal dan paling dasar dari manusia dan terjerembab pada developmentalisme akut. 

Sebab, kita sering gagal dalam memahami apa itu kebenaran dan menentukan mana yang benar. Bukankah sebuah peradaban yang gagal untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, akan jauh lebih buruk dari pada invasi AI dengan diskursus yang sangat cyberpunk itu?


Wicaksana, Satya Wira
Alumnus Universitas Pertahanan Republik Indonesia, Manajemen Pertahanan Cohort 11. 
Sedang menikmati hidup sebagai independent scholar.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :