Bali, elaeis.co - Saat ini kebutuhan minyak nabati dunia dipenuhi oleh beberapa komoditi. Seperti minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari.
Menurut Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian, Musdalifah Machmud, untuk kedelai ada seluas 127 juta hektare di dunia. Selebihnya terbagi atas komoditas lain. Sementara kelapa sawit masuk dalam vegetabel oil yang selalu mendapat kritikan miring dari sejumlah pihak.
"Saat ini kita mengajak semua pihak dan bersama-sama untuk melihat seluruh komoditas yang ada. Jadi jangan hanya kelapa sawit saja yang menjadi fokus dan selalu diisukan macam-macam," terangnya dalam gelaran Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2022, Kamis (3/11).
Bukan hanya dari sisi pembudidayaan, perlu juga dilihat dari sisi isu pemenuhan kebutuhan dunia setiap komoditas yang ada. "Kan pasti beda. Sementara usia tanam juga berbeda," paparnya.
Kelapa sawit dikatakannya adalah komoditi yang usia produksi paling lama. Sehingga pemanfaatan lahan memakan waktu cukup lahan. "Sawit sekali tanam bisa 25 tahun produksi. Sementara komoditas lain tidak seperti kelapa sawit," ungkapnya.
Namun yang menjadi aneh kata Musdalifah, kelapa sawit justru dianggap sebagai perusak hutan. Padahal menurutnya seluruh tanaman awalnya adalah tanaman hutan. "Bumi inikan dulunya hutan. Jadi marilah kita lihat secara fair," paparnya.
Dari catatannya, kelapa sawit saat ini hanya 25 juta hektare di dunia. Sedangkan kontribusinya dalam kebutuhan minyak nabati dunia mencapai 40 persen. Sementara 48 persen dari itu berasal dari Indonesia.
"Harapan kita, masyarakat kita selalu mensuport kelapa sawit. Jika ada kritikan maka kritiklah yang membangun. Sebab, negara lain tidak akan bangga dengan tanaman yang tidak tumbuh di negaranya," ujarnya.
"Sementara pertumbuhan dan kebutuhan terus bertumbuh. Dan kelapa sawit adalah komoditi yang sangat potensial untuk memenuhi kebutuhan tersebut," imbuhnya.
Kontribusinya Untuk Dunia, Kenapa Sawit Selalu Dikritik?
Diskusi pembaca untuk berita ini