Jakarta, elaeis.co - Ancaman musim kemarau 2026 mulai menjadi perhatian serius pelaku sektor perkebunan kelapa sawit rakyat. Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI) mengungkap potensi kondisi iklim ekstrem yang dinilai dapat memicu peningkatan signifikan titik api di berbagai wilayah sentra sawit swadaya.

Khususnya di wilayah perkebunan yang memiliki tingkat kelembapan rendah serta pengelolaan lahan yang belum optimal.

Ketua FORTASBI, Sutiyana, menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dianggap ringan. Menurutnya, perubahan pola iklim yang semakin tidak menentu berpotensi memicu ledakan titik api apabila tidak diantisipasi dengan langkah mitigasi yang terstruktur sejak dini.

“Dengan kondisi kemarau yang lebih kering dan datang lebih awal, risiko kebakaran lahan sawit swadaya meningkat. Karena itu mitigasi harus dilakukan sejak sekarang agar tidak berdampak pada produktivitas dan citra petani sawit rakyat,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip elaeis.co, Rabu (29/4). 

FORTASBI menilai bahwa salah satu faktor penting dalam menekan potensi kebakaran adalah penerapan prinsip sertifikasi sawit berkelanjutan secara konsisten. 

Petani sawit swadaya didorong untuk lebih disiplin dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), termasuk larangan membuka lahan dengan cara membakar.

Menurut Sutiyana, praktik budidaya yang baik bukan hanya berdampak pada peningkatan produktivitas, tetapi juga menjadi benteng utama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di tengah tekanan perubahan iklim.

“Kuncinya ada pada disiplin pengelolaan lahan dan pemantauan rutin. Jika itu dilakukan secara konsisten, risiko kebakaran bisa ditekan secara signifikan,” tambahnya.

FORTASBI juga mengakui bahwa sebagian besar petani sawit swadaya yang tergabung dalam organisasinya telah memiliki pengalaman menghadapi musim kemarau panjang sebelumnya. 

Namun, tantangan tahun 2026 dinilai lebih kompleks karena dipengaruhi anomali cuaca serta potensi kekeringan yang lebih ekstrem.

Oleh karena itu, penguatan sistem pengawasan internal (internal control system) menjadi sorotan utama. FORTASBI menekankan bahwa sistem kontrol ini harus diperkuat hingga tingkat kelompok tani agar deteksi dini titik panas dapat dilakukan lebih cepat dan respons penanganan kebakaran bisa lebih efektif.

FORTASBI berharap kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dapat semakin diperkuat, terutama dalam menghadapi musim kemarau yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran lahan.

Selain itu, dukungan kebijakan seperti optimalisasi Dana Bagi Hasil Perkebunan juga dinilai penting untuk memperkuat kapasitas petani dalam mitigasi kebakaran, pelatihan teknis, serta pengadaan sarana pengendalian api di lapangan.

Di tengah tekanan iklim global dan tantangan produktivitas, FORTASBI menegaskan bahwa keberlanjutan sektor sawit rakyat hanya dapat dicapai jika aspek lingkungan dan ekonomi berjalan seimbang.

“Harapannya, dengan kesiapsiagaan yang lebih baik, tidak ada kebakaran besar di lahan sawit swadaya. Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal keberlanjutan hidup petani dan lingkungan,” tutup Sutiyana.

Dengan meningkatnya kewaspadaan ini, sektor sawit rakyat kini dituntut untuk lebih adaptif terhadap perubahan iklim ekstrem yang diprediksi akan semakin sering terjadi dalam beberapa tahun ke depan.