Jakarta, elaeis.co - Wacana Badan Sawit Nasional (BSN) yang menjadi salah satu program Calon Presiden (Capres) nomor urut 03, Ganjar Pranowo menjadi sorotan dari berbagai pihak.

Seperti Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aspek-PIR, Syarifudin yang menilai bahwa pembentukan BSN hanya membuang-buang energi. Malah menurutnya hanya menguras anggaran.

"Kan BPDPKS sudah ada, dan sama-sama badan sawit juga," kata Syarifudin kepada elaeis.co, Rabu (7/2)

Menurutnya ada yang lebih penting ketimbang BSN. Yakni Kementrian Perkebunan dan Tanaman Keras. Sebab dapat mengurusi langsung tata kelola kelapa sawit yang saat ini sudah seluas 16,38 juta hektar lebih. Dimana ada sekitar 17,5 juta rakyat yang hidup dari mata pencaharian di sawit baik langsung maupun tidak.

"Kita itu butuh penataan yang baik dan komprehensif. Jadi setidaknya hadirkan kembali Kementrian Perkebunan dan Tanaman Keras," ujarnya.

Dulu zaman orde baru, lanjutnya, luas perkebunan sawit yang hanya 1 juta hektar saja ditangani seorang Menteri Perkebunan dan Tanaman Keras. Artinya satu menteri khusus mengurusi permasalahan perkebunan. Hasilnya kala itu tertata dan perkembangan sektor perkebunan sangat baik.

"Nah, waktu itu luas perkebunan sawit hanya 1 juta hektar saja, ditangani langsung satu menteri. Sekarang, sudah belasan juta hektar, malah setingkat Eselon II yang nangani. Ini kan kebijakan mundur. Mestinya dipertimbangkan kembali," tandasnya.