Pengajar di berbagai kampus ternama di kota Medan itu mengatakan kinerja harga CPO memang relatif tidak banyak berubah beberapa waktu terakhir.
"Dan seharusnya kondisi itu bisa menjaga harga pembelian tandan buah segar (TBS) di tingkat petani sawit kita," kata pria yang punya kemampuan menganalisis perkembangan bursa saham ini.
"Namun sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Harga CPO terpukul oleh penguatan mata uang kita, Rupiah, dan mata uang Malaysia, Ringgit, yang terjadi belakangan ini," beber Gunawan.
Baca juga: Harga CPO di Riau Membubung
Bahkan, kata dosen di kampus Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) ini, untuk hari Jumat lalu saja mata uang Rupiah menguat di kisaran level Rp 15.350 per US Dolar.
Dalam sepekan terakhir, Gunawan mengatakan Rupiah menguat sebanyak 200 poin, dan hal itu sudah pasti akan menekan pendapatan para eksportir produk turunan kelapa sawit di berbagai sentra perkebunan di Indonesia, termasuk Provinsi Sumatera Utara (Sumut).
Di samping faktor penguatan mata uang Rupiah dan Ringgit terhadap US Dollar, Gunawan menyampaikan bahwa faktor lain yang memicu pelemahan harga CPO belakangan ini lebih dipengaruhi oleh kinerja eksor yang melemah.
"Ekspor melemah, eh Rupiah dan Ringgit juga terus menguat. Harga CPO jadi nge-drop. Saya menilai situasi ini kalau terus berlanjut, bakal membuat harga CPO dari proses tender di PT KPBN bakal terus menurun," ucap Gunawan.
Akhirnya Terungkap Penyebab Anjloknya Harga CPO pada Pekan Lalu
Diskusi pembaca untuk berita ini