Selain bensin, proses pengolahan tersebut menghasilkan produk samping berupa gas elpiji yang disebut mencapai sekitar 11.000 ton per bulan.

Namun, capaian itu belum berarti Indonesia sudah memiliki bensin G100 yang seluruh bahan bakunya berasal dari sawit dan tersedia secara komersial di SPBU.

Teknologi yang diterapkan masih menggunakan skema co-processing. Artinya, RBDPO menjadi salah satu bagian dari bahan baku yang diproses bersama komponen lainnya.

Sementara itu, konsep G100 membutuhkan pengembangan lebih lanjut agar bahan bakar bensin dapat diproduksi dengan bahan baku sawit secara penuh.

Jika berhasil dikembangkan secara komersial, G100 berpotensi membuka babak baru hilirisasi industri sawit Indonesia.

Selama ini, pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar lebih dikenal melalui biodiesel sebagai substitusi solar. Kehadiran bensin berbasis sawit dapat memperluas pasar domestik sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut.

Meski demikian, jalan menuju G100 masih menghadapi sejumlah tantangan. Investasi kilang, biaya produksi, ketersediaan bahan baku, standar mutu bahan bakar, hingga dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor penting.

Dengan demikian, bensin sawit 100 persen belum bisa ditemukan masyarakat di SPBU saat ini. Namun, pengujian yang pernah dilakukan di Kilang Plaju menunjukkan bahwa minyak sawit memiliki peluang untuk masuk lebih jauh ke sektor energi dan menjadi bagian dari masa depan hilirisasi sawit nasional.