Jakarta, elaeis.co – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi iradiasi gamma Cobalt-60 (Co-60) untuk meningkatkan produksi biodiesel dari minyak jelantah. Dalam penelitian awal, teknologi ini menghasilkan biodiesel hingga 104,7 mL dari bahan baku sebanyak 150 mL.
Teknologi tersebut dikembangkan Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia (Poltek Nuklir) BRIN sebagai alternatif untuk mendorong pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mengolah limbah minyak jelantah menjadi produk bernilai tambah.
Dosen Poltek Nuklir BRIN, Dhita Ariyanti, mengatakan pengembangan energi alternatif semakin dibutuhkan seiring meningkatnya konsumsi energi dan masih tingginya ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Menurutnya, minyak jelantah memiliki potensi besar sebagai bahan baku biodiesel karena jumlahnya melimpah dan selama ini kerap menjadi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan.
“Biodiesel memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil, antara lain menghasilkan emisi yang lebih rendah dan mudah terurai secara alami,” ujar Dhita kepada Tim Humas BRIN, Selasa (18/8).
Berbeda dari proses produksi biodiesel konvensional, penelitian ini memanfaatkan sinar gamma yang berasal dari radioisotop Cobalt-60.
Iradiasi tersebut menghasilkan radikal bebas yang dapat meningkatkan reaktivitas molekul sehingga proses pembentukan biodiesel berpotensi berlangsung lebih efektif tanpa penambahan bahan kimia baru.
Teknologi Nuklir BRIN Bikin Biodiesel dari Minyak Jelantah, Iradiasi Gamma Jadi Kunci
Diskusi pembaca untuk berita ini