Banyak orang bilang kalau minyak sawit itu lebih mahal ketimbang minyak nabati lainnya seperti soybean, rapeseed maupun bunga matahari.
Gara-gara asumsi semacam itu dimunculkan, mereka kemudian mengatakan kalau minyak sawit tidak layak menjadi sumber bahan pangan maupun energi dunia
Tapi apa yang dibilang banyak orang itu justru terbantahkan oleh data yang disodorkan oleh Oil World maupun World Bank.
Januari 2021 hingga April 2022 misalnya. Pada grafik di bawah ini kelihatan perbedaan harga antara empat jenis minyak nabati utama dunia yang ada.
Perbandingan Harga Minyak Sawit dengan Minyak Nabati Utama Lainnya (Sumber: Oil World, World Bank; data diolah PASPI,2022)
Ini terjadi lantaran produktivitas minyak sawit jauh lebih tinggi ketimbang minyak nabati lain. Kalau sehektar sawit bisa menghasilkan minyak 4 ton, rapeesed hanya 0,7 ton, bunga matahari 0,52 ton dan kedelai 0,45 ton.
Oleh produktifitas yang tinggi ini pulalah kemudian minyak sawit perlahan akhirnya mendominasi pangsa minyak nabati dunia.
Memang tak bisa dipungkiri kalau pada 1965, minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi minyak kedelai 61%,rapeseed 23%, sawit 16% dan bunga matahari 1%.
Tapi pada 2021, posisi ini sudah benar-benar berubah. Pangsa minyak sawit telah berada di angka 40%. Minyak kedelai 33%, minyak rapeseed 17% dan minyak bunga matahari 11%.
Yang membikin semakin menarik, pada periode 2000-2021, pangsa konsumsi minyak sawit Uni Eropa telah mengalami peningkatan dari 24% menjadi 29% (USDA, 2022).
Di Amerika Serikat juga begitu meski di sana, minyak nabati utamanya masih minyak kedelai. Hanya saja, meski minyak kedelai masih mendominasi, tapi proporsi pemakaian minyak sawit telah meningkat dari 3% menjadi 10% pada periode 1980-2021 (USDA, 2022).
China, pada tahun 1965 masih didominasi oleh minyak rapeseed (68%), minyak kedelai (24%) dan minyak sawit (9%).
Seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi di sana, pangsa konsumsi minyak sawit akhirnya mengalami pertumbuhan hingga mencapai 19% pada tahun 2021 (USDA, 2022).
Di India, pola konsumsi minyak nabatinya justru relatif kompetitif. Pada tahun 1980 minyak rapeseed 39%, minyak kedelai 37%, dan minyak sawit 23%.
Namun perlahan, pangsa konsumsi minyak sawit di sana justru tumbuh cepat hingga kemudin mendominasi konsumsi minyak nabati India. Pangsa minyak sawit meningkat dari 37% tahun 1980 menjadi 44% pada tahun 2021 (USDA 2022).
Dari uraian di atas, kelihatan betul kalau secara internsional, peran minyak sawit semakin penting dan signifikan.
Pergeseran konsumsi minyak nabati dunia semakin memperbesar porsi minyak sawit menjadi pilihan yang realistis lantaran itu tadi; produktifitasnya jauh lebih tinggi dan lebih murah pula. Lantaran produktifitasnya lebih itu, minyak sawit menjadi lebih sustainable.
Semua paparan ini ada pada Buku Mitos vs Fakta Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global Edisi Keempat yang diterbitkan oleh PASPI di tahun ini. Bersambung...
Catatan redaksi: naskah ini telah mengalami pengeditan ulang pada 22 Juli 2023 pukul 22:45 Wib. Harap maklum
Perkembangan Mutakhir Industri Sawit Indonesia Harga Minyak Sawit Ternyata Lebih Murah Lho
Diskusi pembaca untuk berita ini