Bogor, elaeis.co – Peneliti di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Sustainable Biofuel Research Center (SBRC) berhasil mengembangkan teknologi baru untuk membuat biodiesel dari minyak sawit menjadi lebih bersih, lebih hemat bahan bakar, dan lebih aman untuk mesin. 

Inovasi ini dilakukan dengan menambahkan bioaditif alami berbahan minyak atsiri seperti cengkeh, sereh wangi, dan terpentin, yang membantu menjaga kualitas bahan bakar selama penyimpanan dan distribusi.

Dwi Setyaningsih, Sekretaris SBRC sekaligus Dosen Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB, menjelaskan bahwa tantangan utama biodiesel di lapangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga soal stabilitas kualitas. 

“Sering terjadi penyumbatan fuel pump dan filter karena adanya kotoran, air, atau deposit yang menempel. Dengan bioaditif ini, umur filter bisa meningkat hampir dua kali lipat, konsumsi BBM bisa lebih hemat 5–7 persen, dan performa mesin tetap stabil,” jelas Dwi.

Inovasi ini tidak sebatas teori. Bioaditif telah diuji coba pada berbagai armada nyata, mulai dari kapal, armada pengangkut BBM Pertamina, hingga bus operasional IPB. 

Produk ini sudah dipatenkan dan mulai dikomersialkan melalui mitra industri. “Kami ingin memastikan hasil riset laboratorium bisa diterapkan di dunia nyata, sehingga manfaatnya terasa langsung,” tambah Dwi.

SBRC memiliki fasilitas produksi biodiesel skala pilot di Gunung Putri, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar lima ton per hari. Fasilitas ini digunakan untuk menjembatani penelitian laboratorium ke kebutuhan industri. 

Proses produksinya melibatkan transesterifikasi, yakni memanaskan minyak sawit, dicampur metanol dan katalis, kemudian dipisahkan menjadi biodiesel dan gliserol sebelum dimurnikan. Biodiesel yang dihasilkan kemudian dicuci hingga pH netral dan dikeringkan agar siap digunakan.

Menurut Dwi, pengembangan biodiesel saat ini tidak hanya berfokus pada substitusi energi fosil. Bioaditif nabati juga mendukung kualitas pembakaran dan pelumasan mesin. Dengan demikian, biodiesel sawit menjadi lebih ramah terhadap mesin, sekaligus membantu mengurangi emisi karbon. 

“Langkah ini penting agar biodiesel sawit Indonesia diakui oleh International Maritime Organization (IMO) sebagai bahan bakar berkelanjutan,” ujar Dwi. Pengakuan internasional ini diyakini akan memperkuat citra positif sawit Indonesia di pasar global dan mendukung target Net Zero Emission (NZE) 2060.

Selain pengembangan bioaditif, SBRC juga meneliti alternatif katalis dari biomassa dan alga. Hal ini dimaksudkan untuk menekan biaya produksi biodiesel sekaligus meningkatkan nilai tambah dari limbah sawit. 

Beberapa senyawa bernilai tinggi yang diekstraksi sebelum pengolahan menjadi biodiesel dapat dimanfaatkan untuk industri kimia dan farmasi, membuka peluang ekonomi baru dari sawit.

Neli Muna, peneliti SBRC, menambahkan bahwa kontrol suhu selama proses transesterifikasi sangat penting. “Minyak sawit dipanaskan pada suhu 55–60°C, dicampur metanol dan katalis, dijaga agar tidak terbentuk sabun. Setelah satu jam, campuran dipisahkan menjadi metil ester atau biodiesel, dan gliserol, lalu dimurnikan,” jelas Neli. 

Dengan metode ini, biodiesel yang dihasilkan lebih stabil, lebih bersih, dan siap memenuhi kebutuhan kendaraan maupun armada transportasi.

Keunggulan bioaditif IPB ini jelas terlihat di lapangan. Mesin yang menggunakan biodiesel bercampur bioaditif menunjukkan konsumsi bahan bakar lebih hemat, emisi gas buang lebih rendah, dan performa mesin lebih konsisten dibandingkan menggunakan biodiesel biasa. 

Teknologi ini juga membantu memperpanjang umur filter dan fuel pump, sehingga biaya perawatan kendaraan dapat ditekan.

Dwi menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar soal energi, tetapi juga soal diplomasi iklim dan penggerak ekonomi nasional. 

“Biodiesel sawit bisa menjadi instrumen strategis untuk transisi energi, mendukung hilirisasi sawit bernilai tambah tinggi, dan menunjukkan kemampuan Indonesia dalam inovasi berkelanjutan,” kata Dwi.

Dengan teknologi bioaditif nabati dari IPB, industri biodiesel sawit Indonesia tidak hanya semakin bersih dan efisien, tetapi juga berpotensi membuka peluang ekspor bahan bakar berkelanjutan ke pasar global. 

Inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa sawit Indonesia bisa lebih dari sekadar minyak goreng atau energi, tapi juga berperan dalam mendukung kendaraan ramah lingkungan, menjaga mesin tetap awet, dan memberikan manfaat ekonomi yang luas bagi masyarakat.