Ketidakjelasan ini membuat investor memilih wait and see. Bahkan, sebagian analis menilai ketidakpastian berkepanjangan bisa memicu capital outflow dari saham-saham berbasis ekspor.
“Rincian lebih lanjut mengenai implementasi kebijakan ini kemungkinan akan disampaikan melalui briefing dan sosialisasi tambahan dari pemerintah,” tulis riset tersebut.
Sejumlah emiten sawit domestik dinilai bakal paling rentan jika tekanan margin makin dalam. Apalagi jika eksportir hilir mulai menekan harga beli CPO dari produsen dalam negeri demi menjaga keuntungan.
Di sisi lain, emiten yang memiliki eksposur kuat di Malaysia justru diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan. Harga CPO Malaysia yang kini kembali menembus MYR4.600 per ton membuat perusahaan berbasis negeri jiran dinilai lebih aman dari risiko kebijakan ekspor Indonesia.
Pasar sebelumnya juga sudah merespons negatif wacana ekspor satu pintu. Beberapa saham berbasis komoditas sempat bergerak volatile karena investor mulai menghitung ulang risiko bisnis ke depan.
Tak hanya sektor sawit, kekhawatiran juga merembet ke industri mineral dan batu bara yang nantinya ikut masuk dalam skema ekspor satu pintu. Investor cemas dominasi BUMN dalam seluruh rantai ekspor justru membuka ruang inefisiensi baru dan memperbesar risiko piutang macet.
Meski pemerintah mengklaim kebijakan ini bisa menyelamatkan potensi devisa hingga US$150 miliar dan menekan manipulasi harga ekspor, pelaku pasar tampaknya belum sepenuhnya yakin.
Bila implementasi berjalan tanpa transparansi dan kepastian mekanisme bisnis, bukan tidak mungkin kebijakan ini justru menjadi bumerang bagi pasar modal Indonesia.
Di tengah kondisi global yang masih penuh tekanan, pasar kini menunggu satu hal penting apakah ekspor satu pintu benar-benar memperkuat ekonomi nasional, atau malah membuat investor asing perlahan kabur dari Indonesia.
Ekspor Diambil Alih BUMN, Emiten CPO Terancam Boncos dan Investor Kabur
Diskusi pembaca untuk berita ini