Lubuk Linggau, elaeis.co - Staf Ahli Wali Kota Lubuk Linggau Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, H Kamaluddin mengikuti rapat koordinasi (rakor) pengendalian inflasi daerah tahun 2024 bersama Kemendagri via zoom meeting di Kantor Wali Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.
Kegiatan ini dirangkaikan dengan penandatanganan nota kesepahaman dan surat edaran bersama tentang penguatan tata kelola penempatan perlindungan pekerja migran Indonesia.
Dalam rapat tersebut, Mendagri Tito Karnavian menyampaikan inflasi pada November lalu dibandingkan November tahun 2023 mengalami penurunan diangka 1,55 persen dari Oktober yang lalu 1,17 persen.
Ini adalah angka inflasi terendah selama Indonesia merdeka, bahkan telah mendapat apresiasi langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna.
"Memang terjadi kenaikan inflasi dari Oktober ke November sebesar 0,3 persen, namun masih dalam kondisi terkendali. Rentang target kita dari pemerintah pusat antara 1,5 persen sampai 3,5 persen. Apabila pemerintah bisa mencapai angka tersebut akan menjaga equilibrium atau keseimbangan," ujarnya dikutip dari rilis Diskominfo Lubuk Linggau, Ahad (8/12).
Menurutnya, Indonesia bukan negara konsumen seperti Singapura. Singapura hanya menargetkan serendah mungkin karena mereka tidak ada produsen, sedangkan Indonesia memiliki produsen karena banyak pabrik, petani dan nelayan. Jadi, target Indonesia inflasi tidak boleh lebih rendah dari 1,5 persen.
"Apabila dibawah 1,5 persen, masyarakat akan senang karena harga-harga terjangkau. Akan tetapi para petani dan nelayan mengalami kesulitan untuk menutup biaya operasional," tandasnya
Inlasi tidak boleh juga di atas 3,5 persen. Memang kondisi itu akan menyenangkan produsen, namun menyulitkan masyarakat terutama masyarakat miskin dan rentan miskin.
"Saat ini daya beli masyarakat sangat baik, terlihat dari perawatan pribadi dan jasa lainnya di angka 0,64 dan penyediaan makan-minum di angka 0,17. Yang artinya masyarakat mempunyai uang untuk ke restoran. Dibandingkan bulan lalu, makan-minum 0,59 persen sementara sekarang diangka 0,78, kemungkinan karena adanya pilkada kemarin. Natal dan tahun baru akan mengalami kenaikan lagi," katanya.
Mengenai Indonesia diaspora, disebutkan bahwa jumlah pekerja migran Indonesia di luar negeri angkanya lebih kurang 8 juta. Kebanyakan dari mereka bekerja di sektor non skill seperti di perkebunan kelapa sawit, asisten rumah tangga, dan lain-lain yang rentan dieksploitasi dan perdagangan orang.
"Maka perlu penangan khusus dan sinergi baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terutama di sentra Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT," sebutnya.
Ikut hadir Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tegi Bayumi, Kepala Disperindag, Medhioline Sapta Windu serta Kabag Perekonomian dan SDA, Umarsyah Redo.
Pemko Lubuk Linggau Ikut Rakor dengan Mendagri, Bahas Inflasi dan Pekerja Migran
Diskusi pembaca untuk berita ini