Menurutnya, pada 2024 ini Pelindo akan fokus pada pengembangan kawasan industri yang terintegrasi dengan pelabuhan. Dengan kondisi ekonomi global dan Indonesia yang cenderung stagnan, lalu lintas arus barang akan meningkat terbatas. Karena itu, Pelindo berkepentingan menaikkan volume lalu lintas arus barang dengan mendorong pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri (hinterland) agar pertumbuhan perusahaan bisa meningkat lebih tinggi.

Saat ini, Pelindo sedang mengembangkan tiga pelabuhan yang terintegrasi dengan kawasan industri. Yakni Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur, bekerja sama dengan AKR Corporindo, Terminal Kijing di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, dan Kuala Tanjung.

“Tujuannya adalah menciptakan biaya logistik yang lebih efisien dan sekaligus mendorong penguatan ekonomi kawasan,” jelasnya.

Dia menambahkan, JIIPE memiliki penyewa-penyewa yang terkoneksi dengan PT Freeport Indonesia. Di JIIPE, Freeport memiliki pabrik pemurnian logam (smelter). Luas kawasan industri di JIIPE mencapai 1.761 hektare.

Di Kijing, Pelindo saat ini sudah menguasai lahan seluas 124 hektare yang disiapkan sebagai kawasan industri. Lokasinya persis di belakang Terminal Kijing. Pelabuhan dan kawasan industri ini bisa mengakomodasi dua komoditas utama Kalimantan Barat, yakni minyak kelapa sawit dan bauksit. Cadangan bauksit di Kalimantan Barat mencapai 67 persen dari total cadangan Indonesia.

Kuala Tanjung sudah menjadi basis industri minyak kelapa sawit dan logam di Sumatera Utara. Keberadaan kawasan industri yang menyatu dengan pelabuhan akan membuat arus barang lancar dan efisien.

Pelabuhan Kuala Tanjung sekarang fokus pada pengelolaan produk curah. Dalam jangka panjang, Pelabuhan Kuala Tanjung dan KIKT akan menjadi Indonesia Logistic and Supply Chain Hub. Potensi pasarnya memang sangat besar, terutama dari industri minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) dan turunannya seperti minyak goreng, fatty acid, fatty alcohol, palm kernel, dan produk campuran biodiesel. 

Saat ini, banyak perusahaan sawit yang memiliki pabrik di Kuala Tanjung. Misalnya PT Multimas Nabati Asahan (Grup Wilmar) dan PT Domba Mas. Selain itu, ada sejumlah pabrik pengolahan logam seperti PT Inalum (Persero), PT Dairi Prima Mineral, dan PT Asahan Aluminium Alloys.

Ditambah lagi, Kuala Tanjung sudah terkoneksi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang jaraknya hanya sekitar 43 kilometer. Sejumlah perusahaan sudah memiliki pabriknya di Sei Mangkei, antara lain PT Unilever Oleochemical Indonesia, PT Industri Nabati Lestari, anak perusahaan PTPN III dan IV, PT Pertamina Gas, dan PT Pertamina Power Indonesia.

Saat ini, KEK Sei Mangkei sudah terhubung dengan Kuala Tanjung melalui jalur kereta api dan jalan tol Tebing Tinggi-Parapat. Pengembangan jalur kereta api ini merupakan hasil kerja sama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Pelindo, dan PTPN III. Jalan tol dan jalur kereta api tersebut menjadi tulang punggung perekonomian Sumatera Utara yang baru.