Bengkulu, elaeis.co - Kompetensi sumber daya manusia (SDM) dalam industri perkebunan kelapa sawit di Provinsi Bengkulu menghadapi tantangan serius, dengan risiko krisis regenerasi yang semakin mengkhawatirkan. 

Minat petani milenial terhadap sektor ini menurun drastis, menimbulkan keprihatinan mendalam terhadap masa depan industri sawit di Bengkulu.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Bengkulu, Edwar Happy mengaku, penting upaya untuk meningkatkan SDM di kalangan petani sawit. Karena dengan SDM meningkat maka sektor kelapa sawit akan berdampak signifikan ke ekonomi daerah.

"Peningkatan SDM sangat menentukan terhadap pertumbuhan ekonomi Bengkulu, kami berharap petani bisa mengikuti pelatihan dan sebagainya," ujar Edwar, Minggu (10/12).

Dalam konteks ini, pemangkasan minat petani milenial dalam berkebun kelapa sawit perlu diatasi melalui pendekatan holistik. 

Petani sawit dan pemangku kepentingan terkait harus berkolaborasi untuk memberikan insentif, pelatihan, dan pendampingan kepada generasi muda agar melihat potensi ekonomi positif dalam industri perkebunan kelapa sawit.

"Harus ada pelatihan dan pendampingan, kami rasa pabrik kelapa sawit bisa melakukan hal itu, anggap itu bagian dari CSR perusahaan kepada masyarakat sekitar," ujarnya.

Menyikapi permasalahan ini, Aliansi Petani Kelapa Sawit Bengkulu, Edy Mashury menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kurangnya minat petani milenial dalam mengelola perkebunan kelapa sawit. Hal itu disebabkan SDM yang rendah di sektor kelapa sawit.

"Kami membutuhkan komitmen bersama untuk memberdayakan generasi muda agar melihat kelapa sawit sebagai pilihan karier yang menjanjikan," ungkap Edy.

Dalam upaya mendukung regenerasi SDM, Pemerintah Provinsi Bengkulu perlu merumuskan kebijakan yang mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam sektor perkebunan kelapa sawit. Hal ini dapat mencakup insentif fiskal, pelatihan teknis, dan pembentukan kemitraan antara pemangku kepentingan industri dan lembaga pendidikan.

"Krisis regenerasi SDM perkebunan kelapa sawit bukan hanya masalah lokal, namun juga menimbulkan dampak luas terhadap ekonomi nasional. Oleh karena itu, tindakan segera dan kolaboratif diperlukan agar industri sawit tetap berdaya saing dan berkelanjutan dalam jangka panjang," pungkasnya.