Berita / Sumatera /
Disbun Paparkan Sejumlah Tantangan Perkebunan Sawit di Riau
Kadisbun Riau, Syahrial Abdi saat memberikan sambutan pada gelaran SIEXPO.(Dok)
Pekanbaru, elaeis.co - Riau memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia. Namun sejumlah tantangan justru masih menjadi momok komoditi andalan Indonesia itu di Bumi Lancang Kuning.
Kelapa Dinas Perkebunan, Syahrial Abdi dalam gelaran SIEXPO di Pekanbaru mengungkapkan pemerintah Provinsi Riau saat ini masih terus mencari solusi dan trobosan untuk menghadapi sejumlah tantangan pada perkebunan sawit tersebut.
masalah kawasan hutan masih menjadi tantangan serius perkebunan sawit di Riau. Dimana tidak sedikit lahan atau kebun sawit di Riau masuk dalam kawasan hutan.
"Ini memang perlu kita carikan solusi agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan" ujarnya dalam memberikan sambutan di acara yang digelar di SKA Co Ex Pekanbaru itu, Kamis (7/8).
Diinformasikan Syahrial, 51 persen penduduk Riau bergantung pada perkebunan kelapa sawit. Untuk itu inovasi- inovasi penyelesaian permasalahan kebun kelapa menjadi fokus pemprov Riau saat ini.
Selain kawasan hutan, tantangan lain yakni masih masifnya petani yang menggunakan bibit palsu dan tidak bersertifikat salam pembangunan kebun kelapa sawitnya. Hal ini berdampak pada produksi kebun kelapa sawit hingga kualitas tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan.
"Kita juga terus berkoordinasi dengan perusahaan - perusahaan kelapa sawit untuk menghadirkan benih sawit unggul dan sertifkat. Sehingga mempermudah petani dalam mencari bibit kelapa sawit tersebut," ujarnya.
Menurutnya jika benih telah bersertifikat, maka kebun petani juga akan mudah mendapatkan sertifikasi yang mendukung petani untuk menikmati berbagai program dari pemerintah.
Kemudian tantangan lain adalah serangan hama, legalitas lahan yang belum SHM dan STDB. Lalu permasalahan terkait lembaga pekebun dan rantai pasok yang masih panjang sehingga petani tidak menikmati harga terbaik untuk hasil kebunnya
"Terbatasnya akses pembiayaan perbankan juga menjadi tantangan tersendiri. Termasuk juga terbatasnya pembiayaan hilirisasi kelapa sawit itu sendiri," bebernya.







Komentar Via Facebook :