Jakarta, elaeis.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi banyak faktor. 

Data historis menunjukkan lokasi kebakaran tidak hanya berada di wilayah perkebunan kelapa sawit, tetapi juga tersebar di berbagai kawasan non-sentra sawit.

Merujuk publikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang menghimpun data historis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) periode 2010-2022, karhutla tercatat terjadi di hampir seluruh provinsi Indonesia.

Provinsi sentra sawit seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, dan Kalimantan Barat memang termasuk wilayah dengan luas kebakaran relatif besar. 

Namun, kebakaran juga terjadi di provinsi yang bukan merupakan sentra utama produksi kelapa sawit.

Wilayah seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat turut mencatat kejadian karhutla.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor keberadaan perkebunan sawit tidak dapat berdiri sendiri dalam menjelaskan pola kebakaran di Indonesia.

Sebaliknya, sejumlah provinsi yang memiliki perkebunan sawit, seperti Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu, tercatat memiliki luas karhutla relatif lebih rendah.

Gambaran lebih spesifik terlihat dari distribusi titik api pada periode kebakaran besar 2015 dan 2019.