Jakarta, elaeis.co - Cargill menggelontorkan dana jumbo untuk petani kakao Indonesia. Total Rp38,8 miliar dikucurkan dalam bentuk premi kepada lebih dari 7.800 petani yang ikut program sertifikasi.
Langkah ini jadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok kakao nasional agar lebih transparan, berkelanjutan, dan punya daya saing global.
Premi tersebut diberikan kepada petani yang tergabung dalam program sertifikasi Rainforest Alliance. Dana ini menjadi tambahan penghasilan di luar penjualan biji kakao, dengan syarat petani memenuhi standar budidaya dan keterlacakan yang ketat.
Dari total dana, sekitar Rp35 miliar disalurkan ke petani di Sulawesi Tengah. Sisanya Rp3,8 miliar mengalir ke petani di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Dukungan ke petani penting untuk membangun rantai pasok kakao yang tangguh dan transparan,” kata Director Sustainability Food APAC Cargill, Brook Chang, dalam keterangan tertulis, Rabu (22/4).
Program ini juga berdampak langsung ke produksi. Di Sulawesi Tengah, lebih dari 5.600 petani terlibat, termasuk sekitar 600 petani perempuan. Dalam periode Mei 2023 hingga Februari 2026, produksi kakao bersertifikat mencapai 16.000 metrik ton dari wilayah Parigi Moutong, Poso, dan Morowali Utara.
Sementara di Flores, NTT, sebanyak 2.200 petani ikut program ini. Produksi kakao bersertifikat dari wilayah Ende, Sikka, Manggarai Timur, hingga Flores Timur tercatat sekitar 2.000 metrik ton sejak Oktober 2022 sampai Februari 2026.
Penyaluran premi dilakukan lewat kegiatan Farmer Field Days. Acara ini jadi ajang kumpul petani sekaligus tempat belajar langsung soal praktik pertanian yang baik.
Program ini juga menggandeng mitra lokal, yakni PT Rayner Anugrah Kemurahan (PT RAK). Perusahaan ini membantu petani lewat pelatihan, pendampingan teknis, hingga sistem keterlacakan digital.
Tak cuma itu, PT RAK juga mengelola enam kebun percontohan dan lima pembibitan dengan kapasitas hingga 30.000 bibit kakao. Tujuannya untuk mendukung peremajaan tanaman dan meningkatkan produktivitas.
Ferdy Wongkar, mitra sekaligus pemegang sertifikat Rainforest Alliance, menyebut program ini bikin petani makin percaya diri.
“Petani jadi lebih paham cara kelola kebun, hasil panen meningkat dan kualitas lebih baik,” ujarnya.
Dari sisi pemerintah daerah, program ini dinilai membantu meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Cargill sendiri sudah beroperasi di Indonesia sejak 1974. Saat ini, perusahaan memiliki lebih dari 19.000 karyawan dan beroperasi di sekitar 60 lokasi di seluruh Indonesia.
Lewat program ini, Cargill menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai salah satu sumber utama kakao berkelanjutan di pasar global.
Cargill Kucurkan Rp38,8 Miliar, Petani Kakao RI Naik Kelas Lewat Sertifikasi
Diskusi pembaca untuk berita ini