Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi peserta karena mereka tidak hanya menerima penjelasan mengenai pemetaan, tetapi juga langsung mencoba membuatnya dengan memanfaatkan teknologi yang diperkenalkan selama pelatihan.
“Yang menarik, peserta sekarang tidak hanya tahu bahwa peta itu penting, tetapi mereka juga belajar bagaimana membuatnya. Jadi ketika kembali ke kebun, mereka sudah punya bekal untuk mulai melakukan mapping sendiri dan menyimpan data kebunnya,” tambahnya.
Ia berharap kemampuan tersebut dapat terus digunakan dan dikembangkan oleh peserta setelah pelatihan berakhir. Dengan memiliki data kebun yang lebih tertata, pekebun akan lebih mudah mengenali kondisi wilayah yang dikelolanya sekaligus menyiapkan berbagai kebutuhan administrasi dan pengelolaan kebun di masa mendatang.
Salah satu peserta pelatihan, Joko Haryono, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti pelatihan, terutama karena pembelajaran tidak hanya berlangsung secara teori, tetapi dilanjutkan dengan praktik langsung di lapangan.
“Selama mengikuti pelatihan ini, saya mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang pemetaan. Awalnya kami hanya memahami secara teori, tetapi setelah praktik langsung menggunakan drone dan aplikasi, kami jadi lebih memahami bagaimana proses pemetaan itu dilakukan,” ujar Joko.
Menurutnya, praktik langsung menjadi bagian yang paling membantu karena peserta dapat melihat dan mencoba sendiri setiap tahapan dalam proses mapping.
“Yang paling bermanfaat bagi kami adalah praktiknya. Kami bisa mencoba sendiri bagaimana mengambil data, melihat posisi dan batas lahan, sampai membuat peta. Jadi setelah selesai pelatihan, kami punya gambaran dan bekal untuk mencoba melakukan pemetaan di kebun masing-masing,” katanya.
Joko berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat terus digunakan oleh para pekebun, terutama untuk membantu mereka memiliki data kebun yang lebih jelas, akurat, dan tertata.
Melalui pelatihan ini, para pekebun tidak hanya belajar memahami peta, tetapi juga mengalami secara langsung proses bagaimana sebuah peta dibuat.
Mulai dari menentukan wilayah yang akan dipetakan, mengambil data menggunakan drone, memanfaatkan aplikasi Avenza Maps, mengolah data, hingga menghasilkan peta yang dapat digunakan sebagai informasi awal mengenai kondisi kebun.
Bagi DGL Learning Institute, pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik menjadi bagian penting dalam pengembangan kompetensi pekebun.
Pengetahuan yang diperoleh di kelas diharapkan dapat dibawa ke lapangan dan digunakan untuk menjawab kebutuhan nyata dalam pengelolaan kebun, sekaligus mendorong pekebun memiliki data wilayah perkebunan yang lebih tertata dan terdokumentasi.
Tentang DGL Learning Institute
DGL Learning Institute merupakan lembaga pelatihan di bawah PT Daya Guna Lestari yang berfokus pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia, khususnya di sektor perkebunan.
DGL Learning Institute menghadirkan berbagai program pelatihan teknis, manajerial, sertifikasi, digital learning, serta pendampingan yang berorientasi pada peningkatan kapasitas SDM dan kebutuhan industri.
BPDP, Ditjenbun, dan DGL Ajak 55 Petani di Bengkulu Belajar Mapping Kebun hingga Buat Peta Sendiri
Diskusi pembaca untuk berita ini