Yogyakarta, elaeis.co -- Rasa gembira dan bangga masih benar-benar dirasakan Miftahudin Nur Ihsan. Tengok saja, meski beberapa hari telah berlalu sejak berhasil meraih Juara 3 Championship Inovasi Wastra Nusantara (Citra Nusa) 2026, kebahagiaan atas pencapaian tersebut masih terpancar di wajah CEO Smart Batik Indonesia itu. Senyumnya sumringah.

 

Maklumlah, prestasi tersebut bukan sekadar tambahan penghargaan bagi Smart Batik, melainkan juga menjadi pengakuan atas inovasi yang selama ini dikembangkannya dengan mempertemukan batik, sains, bahan turunan kelapa sawit dan pewarna alami.

 

“Saya sangat senang karena kompetisi ini sangat kompetitif dan diikuti ratusan pelaku industri wastra di Indonesia, bukan hanya batik, melainkan juga tenun. Selain itu, banyak maestro yang juga ikut serta, jadi tidak menyangka menjadi salah satu juara,” kata Miftahudin dengan nada riang dalam perbincangan dengan elaeis.co,  Jumat, 28 Agustus 2026.

 

Penghargaan cukup bergengsi tersebut diumumkan pada closing ceremony Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang digelar Bank Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Minggu, 23 Agustus 2026. Smart Batik Indonesia, UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (KPw BI DIY), tampil sebagai salah satu dari lima pemenang utama Citra Nusa 2026. 

Ada pun Posisi pertama diraih Tinung Rambu dari KPw BI Nusa Tenggara Timur, sedangkan BOOLAO dari KPw BI Jawa Barat menempati posisi kedua. Sedangkan posisi keempat dan kelima masing-masing ditempati Tenun Kornelis Ndapakamang dari KPw BI NTT, dan Canting Wira Batik dari KPw BI Jawa Timur.

 

Citra Nusa merupakan ajang yang dirancang Bank Indonesia untuk meningkatkan daya saing pelaku UMKM wastra melalui penguatan kapasitas, inovasi desain, pengembangan produk dan perluasan akses pasar. Prosesnya dimulai dari seleksi regional yang diikuti ratusan peserta, kemudian disaring menjadi 50 peserta, 20 terbaik, hingga akhirnya lima pemenang utama dan tiga pemenang favorit.

 

Dari Batik Tematik ke Batik Sawit

 

Prestasi Smart Batik di Citra Nusa tidak muncul secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari perjalanan Smart Batik Indonesia yang sejak awal menempatkan inovasi sebagai salah satu fondasi usahanya. CV Smart Batik Indonesia berdiri pada 11 Juni 2018. Perusahaan asal Yogyakarta ini mengembangkan batik handmade non-printing dengan karakter yang berbeda, terutama melalui konsep batik tematik.

 

Tema yang diangkat beragam, mulai pendidikan, kesehatan, musik, sains, teknologi informasi, sejarah, budaya, ekonomi, geografi hingga olahraga. Konsep tersebut membuat batik tidak hanya ditempatkan sebagai kain bermotif, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan pesan, pengetahuan dan nilai tertentu.

 

Latar belakang Miftahudin turut memberi warna pada pendekatan tersebut. Ia merupakan lulusan Pendidikan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta dan kemudian menyelesaikan Magister Manajemen konsentrasi Entrepreneurship di Universitas Gadjah Mada. Dalam perjalanan profesionalnya, ia aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan UMKM dan inovasi daerah.

 

Sebelum dikenal melalui Batik Sawit, Miftahudin telah mengembangkan lebih dari 200 motif batik. Pengalaman tersebut kemudian membawanya semakin serius mengembangkan Smart Batik sebagai usaha yang menggabungkan kreativitas, pendidikan dan inovasi.

 

Titik penting dalam perjalanan tersebut terjadi pada 2023, ketika Miftahudin bertemu dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dalam sebuah kegiatan APEKSI di Makassar. Dari pertemuan itu, ia mulai melihat bahwa kelapa sawit memiliki potensi lebih luas untuk dikembangkan, termasuk masuk ke industri kreatif dan batik. Smart Batik kemudian bereksperimen menggunakan malam berbasis sawit. Dari sinilah konsep Batik Sawit mulai dikembangkan secara lebih serius.

 

Sawit Masuk ke Rantai Produksi Batik

 

Bagi Smart Batik, sawit tidak berhenti sebagai inspirasi motif. Produk turunan kelapa sawit justru dicoba masuk ke dalam proses produksi batik. Salah satu inovasinya adalah penggunaan malam berbasis sawit sebagai alternatif malam konvensional. Pengembangan tersebut kemudian diperluas dengan eksplorasi pemanfaatan bagian tanaman sawit, termasuk cangkang, sebagai sumber pewarna alami.

 

Dengan pendekatan tersebut, Batik Sawit tidak sekadar menggambarkan kelapa sawit pada permukaan kain, tetapi berusaha menghadirkan komoditas tersebut dalam rantai nilai produksi batik. Inovasi itu mendapat dukungan dari berbagai pihak, antara lain BPDPKS, Bank Indonesia, Pemerintah Daerah DIY dan Pemerintah Kota Yogyakarta. Smart Batik bahkan membawa inovasi batik berbasis malam sawit dan pewarna alami ke Innovation Festival Suzhou 2024 di China.

 

Kesempatan tampil di Suzhou menjadi salah satu tonggak penting. Smart Batik memperkenalkan inovasi batik ramah lingkungan sekaligus konsep bisnis yang mengedepankan keseimbangan antara manusia, keuntungan dan lingkungan. Dengan demikian, perjalanan Smart Batik mulai bergerak dari produsen batik tematik menjadi usaha yang mencoba membangun model bisnis berbasis inovasi dan keberlanjutan.

 

Di balik pengembangan produk, terdapat aspek pemberdayaan masyarakat yang menjadi bagian penting perjalanan Smart Batik. Pada 2024, Smart Batik tercatat telah melibatkan 56 pembatik, sebagian besar merupakan perempuan di pedesaan. Jumlah tersebut kemudian berkembang menjadi lebih dari 60 pembatik.

 

Bagi Miftahudin, keberadaan Smart Batik bukan semata-mata soal menghasilkan produk dan memasarkannya. Ada upaya untuk membangun ekosistem yang mempertemukan pembatik dengan desain, pasar, komunitas serta berbagai lembaga pendukung.

 

Perjalanan tersebut membuat Smart Batik memperoleh sejumlah apresiasi. Miftahudin juga tercatat menerima penghargaan Pemuda Berprestasi dari Gubernur DIY pada 2024. Sementara inovasi Batik Sawit beberapa kali mendapat perhatian pejabat pemerintah dan lembaga yang bergerak di sektor perkebunan serta UMKM.

 

MIPA Bertemu Sawit

 

Di Citra Nusa 2026, Smart Batik membawa karya yang semakin mencerminkan karakter inovasinya, yakni Batik Sawit Motif MIPA. Motif tersebut memadukan unsur Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi ke dalam komposisi ornamen batik. Simbol-simbol ilmu pengetahuan tidak hanya menjadi elemen dekoratif, tetapi juga bagian dari narasi edukasi yang menjadikan batik sebagai media untuk memperkenalkan sains melalui budaya.

 

Di sinilah berbagai perjalanan Smart Batik seolah bertemu. Batik tematik yang sejak awal dikembangkan Miftahudin bertemu dengan inovasi Batik Sawit. Latar belakang pendidikan kimianya menemukan ruang melalui motif MIPA, sementara gagasan keberlanjutan hadir melalui pemanfaatan bahan turunan kelapa sawit dan pewarna alami.

 

Tidak mengherankan jika karya tersebut akhirnya mampu menembus podium Citra Nusa 2026. Namun bagi Miftahudin, penghargaan itu justru menjadi pemacu untuk melangkah lebih jauh.  “Ini akan sangat berdampak positif, khususnya yang berkaitan dengan semangat inovasi ke depannya. Capaian ini juga menambah kuat branding dari Smart Batik, sehingga diharapkan pemasaran ke depan akan lebih luas dan lebih banyak mitra yang tertarik untuk bekerja sama,” ujarnya.

 

Harapan tersebut sejalan dengan tujuan Citra Nusa yang tidak hanya menempatkan kompetisi sebagai ajang penghargaan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan kapasitas, inovasi produk, branding dan akses pasar UMKM wastra.

 

Dan bagi Miftahudin dengan Smart Batik-nya, Juara 3 Citra Nusa 2026 menjadi penanda bahwa perjalanan dari sebuah usaha batik tematik di Yogyakarta menuju inovasi batik berbasis sawit dan sains semakin mendapatkan pengakuan yang lebih luas.-