Kendari, elaeis.co - Sampai saat ini masih sangat banyak petani yang mengelola kebun kelapa sawitnya secara mandiri. Tidak bermitra dengan perusahaan, bahkan tidak bergabung dalam asosiasi petani kelapa sawit.
Kondisi ini menjadi salah satu fokus Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspek-PIR) dan terus merangkul para petani kelapa sawit mandiri sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan mereka.
Langkah yang sama juga tengah dijalankan DPD I Aspek-PIR Sulawesi Tenggara (Sultra). "Kita memang harus merangkul petani non plasma agar ikut berkelompok dan bermitra dengan perusahaan. Agar kesejahteraannya semakin nyata," jelas Achmad, Ketua DPD I Aspek-PIR Sultra kepada elaeis.co, Kamis (19/12).
Menurutnya, jumlah petani swadaya di daerah bisa mencapai 40%. Karena itu sangat penting untuk dirangkul mengingat ada wacana penetapan harga sawit plasma dan non plasma secara nasional.
"Petani non plasma memang membutuh keterlibatan pemerintah untuk bisa sama-sama berkembang dalam rangka sawit keberlanjutan," bebernya.
Ada beberapa keuntungan jika petani swadaya bergabung dalam asosiasi kelapa sawit. Misalnya akan mendapatkan pembinaan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu sawit yang dihasilkan, serta kepastian harga TBS dari pabrik kelapa sawit (PKS).
Di Sultra sendiri, katanya, pola hubungan kerja sama perusahaan inti dan plasma hampir tidak ada. "Yang ada hanya kemitraan. Sebab, maraknya pembangunan PKS di Sultra baru pada 5 tahun belakangan," sebutnya.
"Sebelumnya PKS yang beroperasi hanya PKS Damai Jaya Lestari. Sekarang sudah ada 8 PKS di Sultra, termasuk PKS non kebun," imbuhnya.
Aspek-PIR Sultra Terus Ajak Petani Sawit Swadaya Berkelompok dan Bermitra
Diskusi pembaca untuk berita ini