Karena itu, pemanfaatan predator alami seperti Tyto alba menjadi salah satu pilihan dalam konsep Integrated Pest Management (IPM) atau pengendalian hama terpadu.

Konsep IPM tidak semata-mata membasmi hama, tetapi menjaga populasi hama agar tetap berada di bawah tingkat yang menimbulkan kerugian ekonomi. Caranya bisa melalui pemantauan, predator alami, perangkap, agen biologis hingga penggunaan pestisida secara lebih selektif.

Di perkebunan Asian Agri, misalnya, satu nest box ditempatkan untuk sekitar 25 hektare lahan.

Namun, memasang nest box bukan berarti petani bisa langsung meninggalkan kebunnya. Peran manusia tetap dibutuhkan, terutama pada tahap awal. Petani perlu menyediakan tempat bersarang, melakukan pemantauan dan memastikan burung hantu bisa beradaptasi dengan lingkungan perkebunan.

Setelah mampu beradaptasi, burung hantu dapat berburu secara mandiri dan membantu menjaga keseimbangan populasi tikus.

Pemanfaatan predator alami juga dinilai punya keuntungan dari sisi ekonomi. Ketika populasi tikus dapat ditekan, potensi kerusakan tanaman dan kehilangan hasil bisa dikurangi.

Di sisi lain, ketergantungan terhadap input kimia untuk mengendalikan hama juga berpotensi berkurang.

Studi yang dikutip University of California Agriculture and Natural Resources (UCANR) memperkirakan pengendalian menggunakan barn owl membutuhkan biaya sekitar US$0,34 atau sekitar Rp6.000 untuk setiap hewan pengerat yang dikendalikan, dengan asumsi kurs US$1 sebesar Rp17.700.

Sebagai pembanding, metode perangkap atau trapping terhadap pocket gopher diperkirakan membutuhkan sekitar US$8,11 atau Rp143.500 per ekor.

Selain burung hantu, pengendalian biologis di perkebunan juga dapat dilakukan dengan metode lain, seperti menanam tanaman penghasil nektar dan memanfaatkan jamur Metarhizium anisopliae.

Bagi petani sawit, pendekatan ini menunjukkan bahwa menjaga produktivitas kebun tak selalu harus identik dengan penggunaan pestisida. Dengan menyediakan habitat bagi predator alami, kebun bisa memiliki “satpam” yang bekerja pada malam hari saat tikus justru aktif mencari makan.

Pada akhirnya, pemanfaatan Tyto alba bukan sekadar soal memburu tikus. Cara tersebut menjadi bagian dari upaya membangun perkebunan sawit yang lebih efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan.