Bengkulu, elaeis.co - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani di Provinsi Bengkulu saat ini masih rendah, hanya Rp 1.200/kg. Hal ini disebabkan pengepul kelapa sawit menurunkan harga sebesar Rp 500 dari harga pabrik kelapa sawit (PKS).
Seorang pengepul TBS Sawit, Berlian Saputra mengatakan, penurunan harga terpaksa dilakukan untuk menyesuaikan biaya angkut TBS.
"Itu karena truk angkutan kelapa sawit dilarang membeli solar subsidi mulai 3 September lalu. Saat ini kami beli TBS paling tinggi Rp 1.300/kg," kata Berlian, kemarin.
Sebelumnya pengepul membeli TBS sawit dari petani Rp 1.500/kg. Namun karena harga Dexlite di Bengkulu saat ini telah mencapai Rp 18.400 per liter, pengepul tidak mungkin membeli TBS sesuai harga ketetapan pemerintah yakni Rp 1.880/kg.
"Biasanya harga di petani hanya selisih Rp 200 dari harga PKS, sekarang jadi Rp 400 hingga Rp 500," katanya.
Dia berharap larangan tersebut dicabut karena tidak hanya berdampak ke bisnisnya, namun juga ke petani kelapa sawit di Bengkulu.
"Harusnya dibedakan aturan untuk mobil punya perusahaan dan milik pribadi, jadi kami bisa terbantu," tukasnya.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bengkulu, Jakfar, mendukung Berlian. Menurutnya, harusnya pemerintah tidak serta merta melarang pembelian solar subsidi, tetapi harus melihat dampak dari larangan tersebut.
"Yang dikorbankan harga TBS petani," tandasnya.
Dia juga menyarankan petani di Bengkulu menjual TBS sawitnya langsung ke PKS.
"Yang satu desa bisalah saling koordinasi, misalnya terkumpul 3 ton langsung bawa ke PKS. Kalau jual ke pengepul, pasti lebih murah," tutupnya.
Rugikan Petani, Larangan Pembelian Solar Subsidi Diminta Dicabut
Diskusi pembaca untuk berita ini