Jakarta, elaeis.co - Harga minyak sawit mentah (CPO) di Malaysia diperkirakan sekitar 3.500-4.500 Ringgit Malaysia per ton pada Desember 2022. Harga ini kemungkinan berbeda jauh dengan harga minyak kedelai.

Menurut MIDF Research, turunnya harga minyak sawit mentah ini lantaran kurangnya permintaan dan tekanan inflasi 2023. Ditambah lagi, pengeluaran rumah tangga di Malaysia yang ketat serta suku bunga dasar yang tinggi secara global.

Dilansir dari Bernama, kebijakan pembebasan pungutan ekspor CPO yang dilakukan Pemerintah Indonesia, juga ikut membikin harga CPO di Negeri Jiran ambles di bulan depan.

Upaya untuk mempertahankan harga CPO di angka 5,500 Ringgit Malaysia per ton pun kandas di tahun ini. Kemungkinan, harga CPO di Malaysia netral tahun depan.

Bahkan, Hong Leong Investment Bank Research berpendapat, harga CPO Malaysia hanya sekitar 5.050-4.000-3.800 Ringgit Malaysia per ton pada 2022 sampai 2024.

Rumah penelitian ini yakin harga CPO akan bertahan diangka 4.000 Ringgit Malaysia per ton selama beberapa bulan ke depan, dan akan mulai turun pada Kuartal-III 2023 dan seterusnya.

"Ini terjadi karena pasokan minyak nabati lain lebih baik, yang juga mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja di Malaysia serta adanya anomali cuaca. Belum lagi resesi global dan stok menumpuk di negara-negara pengekspor minyak sawit," kata Hong Leong.

Sementara, Riset Publiclnvest mengatakan, total stok minyak sawit di Malaysia pada Oktober naik 3,7 persen dari bulan sebelumnya menjadi 2,4 juta ton. 

Ini dikarenakan produksi meningkat meski konsumsi domestik dan ekspor juga meningkat. Namun di sisi impor berkurang setengah dari jumlah tersebut.

"Angka itu lebih rendah dari perkiraan konsensus (kesepakatan bersama) dengan pembeli yakni 2,49 juta ton," ujarnya.

Belum lama ini, Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) juga mengumumkan, stok CPO Malaysia bulan Oktober naik 2,63 persen dari 1,28 juta ton bulan sebelumnya menjadi 1,31 juta ton.

Sementara produksi, output CPO Malaysia di Oktober naik 2,44 persen menjadi 1,81 juta ton dibanding September 1,77 juta ton.

Bahkan, menurut Kenanga Research, ke depan harga minyak dan lemak akan menguat pada Kuartal-III 2022 karena perayaan akhir tahun dan Tahun Baru Imlek.

"Permintaan dari China juga diperkirakan akan tetap banyak. Mengingat negara itu kembali ke era baru fasca-Covid-19," ujarnya.