Jakarta, elaeis.co – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global mencatat penguatan terbatas pada perdagangan Kamis (9/4).
Namun, di dalam negeri, aktivitas pasar justru menunjukkan kehati-hatian, ditandai dengan kembali terjadinya withdraw (WD) dalam tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
Mengutip laporan Reuters, kontrak berjangka CPO acuan pengiriman Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik RM29 per ton atau sekitar 0,63% menjadi RM4.615 per ton. Kenaikan ini terjadi setelah harga sempat terkoreksi lebih dari 3% pada sesi perdagangan sebelumnya.
Penguatan tersebut didorong oleh aksi beli murah (bargain buying) yang dilakukan pelaku pasar setelah penurunan tajam sehari sebelumnya. Selain itu, pemulihan harga minyak mentah dunia turut memberikan sentimen positif terhadap harga minyak nabati, termasuk CPO.
Meski demikian, penguatan di pasar global belum sepenuhnya tercermin di pasar domestik. Dalam tender KPBN, harga CPO kembali mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi tercatat sebesar Rp15.778 per kilogram. Tidak terjadi transaksi pada level tersebut.
Jika dibandingkan dengan posisi penawaran tertinggi pada Rabu (8/4), angka ini sebenarnya mengalami kenaikan sebesar Rp28/kg atau sekitar 0,18%. Namun, kenaikan tersebut belum cukup untuk mendorong kesepakatan antara penjual dan pembeli.
Pelaku pasar domestik masih cenderung menahan transaksi di tengah fluktuasi harga global yang belum stabil. Kondisi ini mencerminkan adanya perbedaan ekspektasi harga antara kedua pihak, terutama dalam merespons arah pasar jangka pendek.
Di sisi lain, faktor kebijakan juga turut memengaruhi dinamika pasar. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dilaporkan telah menerbitkan regulasi terkait jadwal implementasi mandatori biodiesel. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi transisi energi nasional sekaligus upaya meningkatkan serapan domestik CPO.
Namun, dampak kebijakan tersebut belum terlihat signifikan dalam aktivitas perdagangan harian, terutama di tengah kondisi pasar global yang masih berfluktuasi.
Pergerakan komoditas minyak nabati lainnya juga menunjukkan tren yang beragam. Di Chicago Board of Trade, harga kontrak minyak kedelai tercatat naik tipis sebesar 0,44%. Sebaliknya, di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak kedelai turun 0,68%, sementara kontrak minyak sawit melemah 0,52%.
Perbedaan arah pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar global masih berada dalam fase konsolidasi. Pelaku pasar cenderung menunggu kepastian dari berbagai faktor fundamental, seperti pergerakan harga energi, kebijakan pemerintah, serta prospek permintaan global.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar domestik Indonesia yang bergerak lebih konservatif. Withdraw yang kembali terjadi di KPBN menjadi indikasi bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dalam mengambil posisi, terutama di tengah ketidakpastian arah harga dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, meskipun harga CPO global mulai menunjukkan pemulihan, pasar domestik belum sepenuhnya mengikuti tren tersebut. Aktivitas perdagangan yang tertahan mencerminkan masih adanya gap persepsi harga, sekaligus sikap wait and see dari pelaku pasar di dalam negeri.
Harga CPO Menguat 0,63, KPBN Justru Withdraw, Ada Apa di Pasar RI
Diskusi pembaca untuk berita ini