Berita / Serba-Serbi /
Tanggul Rawan Ambruk, Sungai Tamiang Dibentengi Ratusan Batang Kelapa Sawit
Pj. Bupati Aceh Tamiang Drs Asra meninjau kondisi tanggul dan pemasangan krib di Pekan Seruway. foto: Prokopim Aceh Tamiang
Kuala Simpang, elaeis.co - Kondisi tanggul Sungai Tamiang di sepanjang DAS wilayah Pekan Seruway kian memprihatinkan. Bagian atas tanggul runtuh ke sungai karena terus menerus dihantam arus. Pemkab Aceh Tamiang pun melakukan mitigasi risiko banjir dengan membuat krib pemecah/pembelok arus.
Proses pembuatan krib di Pekan Seruway disaksikan langsung Pj Bupati Aceh Tamiang, Drs Asra, bersama Dandim 0117/Atam Letkol Inf. Andi Ariyanto dan Wakapolres Aceh Tamiang Kompol Ichsan.
Asra menegaskan bahwa pembuatan krib merupakan salah satu solusi jangka pendek terbaik. Krib ini untuk mencegah kerusakan tanggul yang lebih parah. “Kondisi tanggul sudah sangat parah, kritis. Kita khawatir kalau kena banjir sekali lagi, ini akan hancur,” jelasnya dalam rilis Prokopim Aceh Tamiang dikutip Senin (5/2).
Menurutnya, pihak pemkab secara luas tak bisa menangani pengelolaan Sungai Tamiang karena kewenangannya di bawah Pemerintah Provinsi Aceh. "Namun pemkab mesti bersikap agar risiko banjir tidak meluas. Penanganan ini dilakukan dengan pola darurat dan mitigasi,” jelasnya.
Dia menjelaskan bahwa tanggul yang dibangun 2016 itu sudah berulang-ulang dihantam banjir sehingga terjadi kerusakan yang sangat parah. Pemkab Aceh Tamiang berinisiatif melakukan pencegahan dini untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
“Ini sekali pukul lagi roboh, perkampungan di sini akan terendam. Kami selaku pemerintah daerah wajib melindungi warga kami dari ancaman bahaya itu,” tegasnya.
Diakuinya kalau krib hanya bersifat sementara karena hanya untuk memperkecil gelombang sungai ke tanggul. Asra kembali mengingatkan agar Pemerintah Provinsi Aceh melakukan penanganan serius karena ancaman banjir di daerah ini bisa menghancurkan pondasi perekonomian masyarakat.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tamiang, Iman Suhery menjelaskan, pihaknya memanfaatkan batang kelapa sawit untuk mengurangi ancaman banjir. Ditargetkan 17 tikungan sungai sudah dilengkapi krib pada tahun ini.
Proses pengerjaan krib ini mulai dilakukan BPBD di Pekan Seruway, Kecamatan Seruway. Di lokasi ini ada tiga titik sungai yang dipasangi krib dengan estimasi pengerjaan selama 18 hari.
“Satu krib membutuhkan waktu enam hari, kita sudah selesai pada krib pertama, ini langsung dilanjutkan pada krib kedua,” ungkapnya.
Menurutnya, pembuatan krib ini menggunakan batang kelapa sawit yang diambil dari enklaf PT Mopoli Raya. Dari lahan seluas tiga hektare itu, mereka bisa membawa lebih 300 batang kelapa sawit.
“Satu titik krib butuh kurang lebih 100 batang kelapa sawit, jadi jumlah batang kelapa sawitnya cukup,” tutupnya.







Komentar Via Facebook :