Resensi Buku: 45 Tahun GAPKI untuk Negeri: Berkontribusi Mewujudkan Indonesia Emas 2045

PenulisJoko Supriyono, Satrija Budi Wibawa, Mukti Sardjono, dan Lalang Buaana

Sambutan: Joefly J. Bahroeny

Pengantar: Eddy Martono

Jakarta: KPG 2026

------ 

Di tengah riuh perdebatan soal keberlanjutan, tekanan regulasi global, dan tarik-menarik kepentingan ekonomi-politik, buku 45 Tahun GAPKI untuk Negeri hadir bukan sekadar sebagai catatan sejarah organisasi. Ia lebih menyerupai sebuah pernyataan posisi: bahwa industri sawit Indonesia bukan hanya soal komoditas, melainkan soal arah pembangunan bangsa.

Sejak halaman awal, buku ini sudah menegaskan satu hal penting—kelapa sawit adalah “berkah ekonomi” yang tidak boleh disia-siakan. Narasi itu terasa kuat dalam sambutan dan pengantar, yang menempatkan sawit sebagai tulang punggung devisa, penggerak pembangunan wilayah, sekaligus sumber penghidupan jutaan orang . Namun, buku ini tidak berhenti pada glorifikasi. Ia juga membawa memori kolektif: bagaimana komoditas unggulan Indonesia di masa lalu—karet, gula, kelapa—pernah berjaya, lalu meredup akibat inkonsistensi kebijakan dan lemahnya daya saing.

Di titik inilah buku ini menjadi relevan. Ia bukan sekadar nostalgia, tetapi peringatan.

Dari organisasi ke orkestrasi industri

Sebagai buku peringatan 45 tahun, struktur penulisan disusun kronologis sekaligus tematik. Dari Bab I hingga Bab VI, pembaca diajak menelusuri transformasi GAPKI—dari organisasi yang relatif sederhana menjadi aktor strategis dalam lanskap industri minyak nabati global.

Yang menarik, buku ini tidak hanya mengisahkan perjalanan internal organisasi, tetapi juga memotret dinamika eksternal: perubahan kebijakan, tekanan pasar global, hingga isu keberlanjutan yang kian menguat. GAPKI digambarkan bukan sekadar asosiasi pengusaha, melainkan “dirigen” yang mengorkestrasi kepentingan industri, pemerintah, dan pasar internasional.

Peran ini ditegaskan berulang kali dalam buku: sebagai jembatan komunikasi, mitra strategis pemerintah, sekaligus representasi Indonesia di forum global. Dalam praktiknya, GAPKI tidak selalu berada dalam posisi nyaman. Ada momen ketika organisasi ini harus mendukung kebijakan pemerintah, tetapi ada pula saat harus menyampaikan kritik berbasis data.

Di sinilah buku ini cukup jujur. Ia mengakui adanya ketidaksinkronan regulasi, tumpang tindih kebijakan lintas kementerian, hingga tantangan legalitas lahan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Sawit: antara stigma dan realitas

Salah satu kekuatan buku ini adalah upayanya membongkar narasi tunggal tentang sawit. Selama ini, diskursus global kerap menempatkan sawit sebagai biang deforestasi dan kerusakan lingkungan. Buku ini tidak menolak kritik tersebut, tetapi mencoba menyeimbangkannya dengan fakta-fakta di lapangan.

Misalnya, penegasan bahwa praktik keberlanjutan melalui skema ISPO dan RSPO telah dijalankan oleh banyak pelaku usaha. Atau fakta bahwa sekitar 41 persen kebun sawit dikelola oleh masyarakat—sebuah angka yang menunjukkan betapa “merakyatnya” industri ini .

Narasi ini penting, karena buku ini pada dasarnya adalah upaya merebut kembali framing tentang sawit. Bukan untuk membela secara membabi buta, melainkan untuk menunjukkan bahwa realitasnya jauh lebih kompleks dibandingkan narasi hitam-putih yang sering muncul di forum internasional.

Namun demikian, buku ini tetap terasa “berpihak”—dan itu bisa dimaklumi. Sebagai produk institusi, sudut pandangnya jelas: memperkuat legitimasi industri sawit sebagai sektor strategis nasional.

Ekonomi, energi, dan politik kebijakan

Bagian yang cukup kuat dalam buku ini adalah pembahasan soal peran sawit dalam ekonomi nasional. Tidak hanya sebagai penyumbang devisa, tetapi juga sebagai jangkar stabilitas di tengah gejolak global.

Kebijakan biodiesel, misalnya, dipaparkan sebagai game changer. Ia bukan hanya soal energi terbarukan, tetapi juga instrumen menjaga harga TBS petani dan memperkuat pasar domestik. Dalam konteks ini, buku ini berhasil menunjukkan bahwa sawit tidak berdiri sendiri—ia terhubung dengan isu ketahanan energi, ketahanan pangan, hingga geopolitik perdagangan.

Namun, buku ini juga mengingatkan: semua itu hanya bisa berjalan jika ada kepastian hukum dan konsistensi kebijakan. Tanpa itu, investasi akan tersendat, modernisasi terhambat, dan daya saing menurun.

Pesan ini terasa seperti benang merah yang mengikat seluruh isi buku.

Menuju 2045: ambisi dan kewaspadaan

Bagian penutup buku membawa pembaca ke masa depan: Indonesia Emas 2045. Target produksi 100 juta ton bukan sekadar angka ambisius, tetapi simbol dari keyakinan bahwa Indonesia akan tetap menjadi pemain utama minyak nabati dunia.

Namun, buku ini tidak terjebak dalam optimisme kosong. Ia mengingatkan bahwa kompetisi global semakin ketat—dengan munculnya negara-negara baru yang mulai mengembangkan sawit. Keunggulan Indonesia tidak lagi ditentukan oleh luas lahan, tetapi oleh produktivitas, tata kelola, dan kredibilitas keberlanjutan.

Di sinilah buku ini menjadi reflektif sekaligus strategis. Ia menekankan pentingnya modernisasi kebun rakyat, hilirisasi, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Catatan kritis

Sebagai buku institusional, 45 Tahun GAPKI untuk Negeri tentu memiliki keterbatasan. Narasinya cenderung satu arah dan minim suara kritis dari luar industri—baik dari akademisi independen, aktivis lingkungan, maupun komunitas terdampak.

Selain itu, meski menyebut isu keberlanjutan, pembahasannya belum sepenuhnya menggali dilema konkret di lapangan, seperti konflik lahan atau ketimpangan akses petani kecil terhadap sertifikasi.

Namun, justru di situlah posisi buku ini menjadi jelas: ia bukan laporan investigatif, melainkan dokumen reflektif sekaligus advokatif.

Pada akhirnya, buku ini layak dibaca bukan hanya oleh pelaku industri sawit, tetapi juga oleh pembuat kebijakan, akademisi, hingga publik yang ingin memahami posisi strategis sawit dalam ekonomi Indonesia.

Ia adalah kombinasi antara sejarah, refleksi, dan proyeksi masa depan. Sebuah upaya untuk memastikan bahwa sawit tidak sekadar bertahan, tetapi juga berkembang secara berdaulat, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Dan mungkin, pesan paling penting dari buku ini sederhana saja:

Indonesia pernah kehilangan kejayaan komoditasnya. Sawit jangan sampai menyusul.-