Jakarta, elaeis.co - Sebagai upaya dalam mendorong program ketahanan pangan, pemerintah saat ini tengah getol hadirkan program tumpang sari padi Gogo di perkebunan sawit. Tepatnya di kebun kelapa sawit yang diremajakan. 

Program ini juga sebagai langkah untuk menghadirkan penghasilan alternatif bagi petani saat menunggu kebun kelapa sawitnya berproduksi usai peremajaan. Namun sayangnya, petani banyak tidak paham terkait Budi daya pagi kering tersebut.

Perihal ini tak ditampik Ketua Umum Aspek-Pir, Setiyono. Menurutnya justru perlu adanya kemitraan anatar petani dan pihak lain dalam mengambangkan padi Gogo tersebut.

"Petani cenderung sudah lama tidak bersentuhan dengan padi. Artinya kemampuan oetai untuk mengembangkan padi Gogo cukup minim. Dampaknya tentu potensi kesuksesan tumpang sari padi Gogo tidak maksimal," tuturnya kepada elaeis.co, Minggu (14/9).

Jika kemitraan, misalnya petani hanya sebagai penyedia lahan kemudian ada pelaku usahanya justru akan semakin membantu. Sebab padi Gogo dipegang langsung oleh tenaga kerja yang sudah sangat paham terkait penanaman padi.

Kemudian, selain kemitraan petani juga butuh bantuan. Mulai dari pupuk hingga dari sisi pemasaran hasil panen. "Jadi kalau ada kemitraan program ini bisa berjalan dengan baik," sambungnya.