Pesanan yang diterimanya berasal dari pelanggan tetap di Depok, Bogor, dan Jakarta. Meningkatnya permintaan membuat roda usaha para pelaku UMKM di sektor kerajinan sawit ikut bergerak lebih cepat.
Di sisi lain, para perajin juga merasakan dampak positif dari meningkatnya permintaan pasar. Rosad, perajin krey sawit di Rangkasbitung Timur, kini mampu memproduksi sekitar enam unit tirai setiap hari.
Setiap unit dijual kepada pengepul dengan harga Rp25 ribu. Dari hasil produksi tersebut, ia bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp150 ribu per hari.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Imam Suangsa, mengatakan kerajinan berbahan baku pelepah sawit memiliki prospek yang cukup menjanjikan. Pemerintah daerah pun terus mendorong masyarakat yang tinggal di sekitar perkebunan sawit untuk mengembangkan usaha kerajinan seperti krey dan sapu lidi.
Menurutnya, permintaan kedua produk tersebut masih tinggi, tidak hanya di wilayah Banten tetapi juga DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Saat ini, Kabupaten Lebak memiliki lebih dari 172 ribu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk perajin tirai sawit. Keberadaan UMKM tersebut dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka lapangan pekerjaan, sekaligus membantu menekan angka kemiskinan dan pengangguran di daerah.
Meningkatnya penjualan tirai sawit selama musim kemarau menunjukkan bahwa produk kerajinan berbahan baku lokal masih memiliki peluang pasar yang besar.
Di tengah cuaca yang semakin panas, permintaan diperkirakan tetap tinggi sehingga menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan produksi dan pendapatan.
Musim Kemarau Bikin Perajin Tirai Sawit Panen Untung
Diskusi pembaca untuk berita ini