https://www.elaeis.co

Berita / Feature /

Menebar Ilmu Poltek CWE di Kaki Pegunungan Arfak

Menebar Ilmu Poltek CWE di Kaki Pegunungan Arfak

Onesimus Muid saat berada di kebun petani yang sedang menjalani peremajaan sawit rakyat di kawasan Warmare. foto: aziz


Dia sempat berdiri di pesawat lantaran takut pesawat itu menabrak awan. 

Onesimus Muid menarik napas panjang. Di satu sisi anak ketiga dari empat bersaudara ini senang bukan kepalang setelah panitia penerima mahasiswa beasiswa sawit menyatakan dia lulus untuk kuliah program diploma satu jurusan Budidaya Kelapa Sawit di Politeknik (Poltek) Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi, Bekasi Jawa Barat (Jabar). 

Tapi di sisi lain, dia jadi terdiam. Rupanya dari koceknya dulu biaya untuk dia sampai ke kampus itu. “Waktu itu ongkos pesawat Rp3,9 juta. Sempat bingung saya, mau cari kemana uang sebanyak itu,” kata alumni SMA Negeri 1 Warmare, Kabupaten Manokwari Provinsi Papua Barat ini, saat berbincang dengan Elaeis Magazine di kawasan Prafi akhir bulan lalu. 

Kalau misalnya memutuskan enggak usah berangkat, Ones tak tega menengok orang yang sudah berjasa padanya; Dorteus Paiki, Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPW-Apkasindo), Papua Barat yang sudah berjasa padanya. Lagi pula sebenarnya, Ones memang ngebet ingin kuliah. 

Baca juga: Sepenggal Cerita Gadis Papua Barat; Cumlaude di Poltek CWE

Ones makin blingsatan setelah Paiki ngasi tenggat waktu. Kalau sampai tenggat waktu itu Ones tak juga punya duit untuk berangkat; batal!. Oleh sederet alasan itulah kemudian, Ones memutuskan bekerja dulu, kebetulan ada pekerjaan menggali parit di kawasan Kabupaten Pegunungan Arfak (Pegaf). 

 

Meski ayahnya, Yunus Muid bilang jangan pergi jauh-jauh, dia paksakan juga, yang penting bisa dapat duit untuk berangkat kuliah. “Puji Tuhan. Saya bisa dapatkan uang buat beli tiket itu,” kenangnya tertawa.   

Berangkat ke Jakarta, menjadi kali pertama bagi Ones, termasuk naik pesawat terbang. “Saya belum pernah sama sekali, pun naik kapal laut, belum pernah juga. Maka saya takut kali saat pesawat menabrak-nabrak awan, pesawat bergunjang, saya berdiri. Orang-orang melihat saya,” terkekeh Ones mengenang.   

Memang, waktu itu Ones tak berangkat sendirian, berenam. Semuanya satu tujuan; Politeknik CWE. Mereka menjadi angkatan pertama program beasiswa sawit bikinan Badan pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) itu, enam tahun silam. “Saat tes beasiswa itu kami ada 28 orang. Kami tes di kantor koperasi di Kampung Wasegi Indah di Distrik Prafi. Tapi yang lulus hanya 8 orang. Dua orang lagi lulus di AKPY-Stiper,” terangnya. 

Di Politeknik CWE yang kini dikomandani oleh Ir. St. Nugroho Kristono, M.T. itu, mereka kemudian dicekoki ragam ilmu. Mulai dari cara buka lahan, tanam kecambah, memupuk hingga memanen Tandan Buah Segar (TBS) dia pelajari. Ilmu itu kian komplit setelah Ones ikut praktek lapangan selama tiga bulan di kebun kelapa sawit milik PTPN V di kawasan Pantai Raja, Kabupaten Kampar, Riau. 

 

Tak terasa, sudah tiga tahun belakangan anak jati suku Hatam Pengunungan Arfak ini menjadi ‘orang penting’ di Koperasi Produsen Kelapa Sawit Arfak Sejahtera. Kebetulan Paiki yang jadi ketua koperasi itu. Urusan mengawasi tanaman, angkutan bibit ke lahan-lahan kelompok, menjadi tanggungjawabnya. 

“Di kampungnya, Ones ini jadi motivator, termasuk di koperasi. Ones satu-satunya anak muda di Kampung Madrat yang sudah pernah keluar Papua. Itulah makanya setelah dia kembali, dia sangat berharga di kampungnya itu,” Paiki yang sedari tadi memperhatikan obrolan itu, memuji Ones. 

Baca juga: Liburan Dapat Duit Ala Mahasiswa Beasiswa Sawit

Kalau dikilas balik, sebetulnya tak ada rencana Ones untuk ikut tes beasiswa sawit itu pada 2016 silam. Maklum, Ones hanya orang kampung di Kampung Madrat Distrik Warmare. Tapi, entah kenapa kemudian saat Paiki bepergian dengan Yunus ke Jakarta, obrolan beasiswa sawit ini mencuat. 

“Bapa Yunus, ada anak laki laki yang sudah selesai sekolah kah? Kalau ada kasih tahu anak siapkan ijazah. Besok kalau ada beasiswa sawit kasih masuk dia,” begitulah obrolan keduanya dalam perjalanan kembali ke Manokwari. 

 

Hasil obrolan inilah yang kemudian membikin Ones sibuk mempersiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan, dan, pengumuman program beasiswa sawit itu kemudian ada.

Bagi keluarga Ones, kelapa sawit bukan sesuatu yang asing, malah oleh kelapa sawit itu nya kakak Ones bisa kuliah ke Jakarta. “Dari dulu saya sudah senang dengan sawit. Soalnya setelah punya sawit satu kavling --- dua hektar --- di plasma PTPN II, bapa kami bisa dapat uang. Dulu kami rumah papan, kemudian bisa jadi bangunan beton,” katanya. 

Sebelum kenal sawit, orang kampung cuma bertanam keladi, pijara dan lainnya. Itulah makanya orang-orang di kaki pengungan Arfak itu bilang; sawit adalah tanaman kehidupan kami, masa depan kami. Dengan sawit bisa dapat uang. Bisa sekolah, kuliah. 

Dan sekarang, di tengah kesibukannya membantu para petani anggota Koperasi Produsen Sawit Arfak Sejahtera, Ones, sudah punya tanah untuk kemudian ditanami sawit. “Saya akan selalu bersama mereka, mengembangkan sawit Manokwari ini bersama-sama. Buat teman-teman saya sesama alumni beasiswa sawit, mari kita abdikan ilmu kita di daerah kita masing-masing. Kita bantu para petani kita. Sebab saya yakin, ke depan sawit akan semakin bermanfaat,” wajah lelaki ini nampak serius. 


 

Komentar Via Facebook :