https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Feature /

Liburan Dapat Duit Ala Mahasiswa Beasiswa Sawit

Liburan Dapat Duit Ala Mahasiswa Beasiswa Sawit

Mahasiswa Beasiswa Sawit Politeknik Kelapa Sawit CWE, Rinaldi Hari Prasetyo, saat mengisi waktu liburan dengan cari upahan menyemprot lahan. foto: Ist


Kalau menengok semangat dan cara berpikir anak-anak muda asal Papua Barat ini, sangat besar kemungkinan budidaya kelapa sawit di sana akan semakin moncer. 

Soalnya secara sumber daya manusia, Papua Barat sudah punya stok untuk itu; anak-anak diploma tiga peserta Beasiswa Sawit Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit pula semuanya. 

Katakanlah Nurul Isna 22 tahun. Perempuan cantik asal Kampung Malawili, Distrik Aimas Kabupaten Sorong, mengambil jurusan Manajemen Logistik. Tinggal hitungan hari lagi, dia sudah wisuda dengan predikat cumlaude. 

Lalu ada pula Rafli, juga asal Sorong yang mengambil jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Perkebunan. Dia seangkatan dengan Rinaldi Hari Prasetyo asal Manokwari yang mengambil jurusan Budidaya Perkebunan Kelapa Sawit. Ini baru dari satu kampus; Politeknik Kelapa Sawit Citra Widya Edukasi (CWE), Bekasi. 

Sudahlah punya stok ilmu teknis yang komplit, mental-mental anak-anak muda ini juga patut diacungi jempol. Isna sendiri, selain ingin menularkan semua ilmu yang dia dapat kepada orang-orang yang dia temui, juga punya misi khusus; mengkampanyekan sawit baik kepada sesiapa saja. Baik secara langsung, maupun melalui media sosial yang dia punya. 

Lalu Rinaldi? Tadi pagi elaeis.co ngobrol panjang dengan lelaki 21 tahun ini. Banyak omongan dan  keseharian dia yang patut ditiru oleh anak-anak muda lain.

Salah satunya adalah mengisi waktu liburan yang ada dengan menghasilkan duit. Hah? 

Baca juga: Sepenggal Cerita Gadis Papua Barat; Cumlaude di Poltek CWE

"Saban pulang liburan saya kerja di kebun kelapa sawit. Ngisi polyback, nyemprot, semua saya kerjakan. Sehari saya bisa dapat duit Rp115 ribu. Jadi, dalam sebulan itu bisalah mengantongi duit sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta," kata anak pertama dari dua bersaudara ini. 

Lelaki asal Kampung Prafi Mulya Distrik Prafi Kabupaten Manokwari ini mengaku tak malu dengan itu semua meski dia seorang mahasiswa.

Rinaldi Hari Prasetyo saat menjadi mahasiswa baru di Politeknik Kelapa Sawit CWE, Bekasi. Foto: ist

"Kalau bagi orang lain liburan itu menghabiskan duit, bagi saya liburan itu musti menghasilkan duit. Enggak ada yang harus saya jadikan alasan untuk malu, sebab yang saya lakukan itu sesuatu yang hal," kata lelaki yang karib di sapa Tejo ini, diplomatis. 

Sebetulnya, kalau ditengok dari perjalanan hidupnya, Rinaldi tergolong lelaki petarung. Sebab setamat  sekolah dari SMA Negeri 1 Prafi dua tahun lalu saja, dia sudah langsung bekerja, meski serabutan. 

Uniknya, lelaki ini memilih tinggal di rumah bibinya, Marsiyem, yang sekaligus induk semangnya. "Kalau tinggal di rumah orang tua, takut membebani," Rinaldi terdengar nyengir. 

Tapi untung juga Ranaldi tinggal di rumah guru SD Inpres 11 Prafi itu. Sebab sang guru yang notabene istri dari Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPW-Apkasindo) Papua Barat, Dorteus Paiki itulah yang mendorong dia untuk kuliah. 

Dalam benak lelaki kelahiran Manokwari ini masuk akal juga. "Giman pula saya mau menata masa depan saya kalau cuma tamat SMA, ngapain saya nanti?" begitulah pertimbangan yang mencuat di dalam hatinya. 

Alhamdulillah, kebetulan di tahun yang sama dengan dia lulus SMA, ada program beasiswa kelapa sawit itu. Dia pun mencoba peruntungan di beasiswa sawit itu dan lulus; satu-satunya dari Manokwari.

Tak terasa, sudah semester lima putra sulung Rianto ini sekarang. Rianto sendiri adalah peserta transmigrasi umum dari Wonosari Yogyakarta, tahun '80 an silam. 

Selama kuliah, prestasi Rinaldi rupanya tergolong moncer juga. Indek Prestasi Komulatif terkininya saja berada di angka 3,34. 

"Alhamdulillah, saya sudah enggak sabar untuk segera selesai kuliah. Saya ingin mengabdikan ilmu saya ini di kampung halaman saya Papua Barat dengan beraktifitas di kebun kelapa sawit," Rinaldi terdengar bersemangat.

Semangat itu juga diberangi sebab lain. Rupanya waktu masih sekolah, banyak dia dengar omongan tak sedap soal sawit. Bahwa sawit itu enggak bagus, enggak menjadi sumber penghidupan. "Kita buktikan saja kelak," begitu omongan dia waktu itu.  


 

Komentar Via Facebook :