https://www.elaeis.co

Berita / Serba-Serbi /

Kaya Gizi, Ulat Hong Kong Jadi Menu Baru

Kaya Gizi, Ulat Hong Kong Jadi Menu Baru

Ulat Hong Kong segera dijual di pasaran Uni Eropa. (Wikipedia.org/Pengo)


Jakarta, Elaeis.co - Bila disebut kata ulat, banyak yang merasa jijik atau geli. Tapi di Uni Eropa, ada sejenis ulat yang baru saja disahkan dan boleh dikonsumsi oleh warga masyarat negara-negara anggotanya.

Menu baru itu adalah ulat Hong Kong atau larva Tenebrio molitor. Sebelum resmi diizinkan dikonsumsi, manfaat ulat Hong Kong sudah diteliti secara bertahun-tahun.

Seperti dikutip IDN Times dari laman Associated Press, 27 negara anggota Uni Eropa telah memberikan lampu hijau atas proposal perizinan larva kumbang Tenebrio molitor sebagai ‘makanan baru’ di pasar. Badan Keamanan Makanan Eropa (EFSA - European Food Safety Authority) telah menerbitkan pendapat ilmiah mengenai larva tersebut dan menyimpulkan aman untuk dikonsumsi manusia yang tidak menderita alergi krustasea (udang-udangan).

EFSA menyatakan, ulat Tenebrio molitor kaya akan protein, lemak, serat, dan mineral. Selain bisa dimakan utuh, ulat Hong Kong dalam bentuk bubuk bisa dicampur sebagai bahan membuat makanan ringan dan mie.

Dilansir Deutsche Welle, ulat Hong Kong atau biasa disebut Mealworms adalah spesies pertama yang disetujui dari 15 serangga yang menjalani prosedur penilaian risiko oleh EFSA pada tahun 2018. Sejauh ini EFSA memiliki 156 aplikasi untuk ‘makanan baru’, termasuk makanan yang diturunkan dari alga.

Giovanni Sogari, peneliti di Universitas Parma mengakui bahwa awalnya orang Eropa akan mengalami apa yang ia sebut sebagai ‘yuck’ atau jijik terhadap serangga sebagai makanan. “Dengan berlalunya waktu, sikap seperti itu bisa berubah,” kata.

Sam Wollaston, yang menuliskan pendapatnya di The Guardian, mengaku sudah mencoba memasak Mealworms kering. Anak-anaknya yang berusia enam dan delapan tahun segera merasa ‘yuck’ ketika masakan itu disajikan.

Meski belum tentu diterima pasar, Leo Taylor, salah satu pendiri perusahaan Bug di Inggris, berencana memasarkan perlengkapan makanan berbahan serangga di Eropa. Dibesarkan di Asia Tenggara, Leo sudah biasa menyantap serangga. Warga Thailand, dia mencontohkan, memakan serangga bukan hanya karena pertimbangan gizi, tapi juga karena memang rasanya enak.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :