Pekanbaru, elaeis.co - Kelapa sawit saat ini menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia. Selain berkontribusi sebagai penyumbang devisa negara terbesar dari sektor perkebunan, industri kelapa sawit juga melahirkan lapangan pekerjaan bagi jutaan masyarakat.
Bukan hanya mendongkrak pembangunan daerah, kelapa sawit juga mengerek kesejahteraan masyarakat yang berprofesi sebagai pekebun kelapa sawit. Komoditas ini juga merupakan komoditas yang paling stabil meski perekonomian melemah. Misalnya saat mewabahnya Covid-19 beberapa tahun lalu, ekonomi di industri kelapa sawit tetap stabil.
Malah dewasa ini, hampir setiap hari kelapa sawit hadir dan digunakan oleh penduduk Indonesia. Sebab menjadi bahan baku produk- produk kebutuhan primer dalam kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari sejumlah tantangan dan hambatan. Tak hanya saat ini namun juga dimasa yang akan datang.
Berdasarkan paparan Dinas Perkebunan Riau, ada tujuh poin tantangan ke depan di sektor industri sawit. Pertama yakni perubahan iklim.
Peningkatan suhu dan curah hujan yang ekstrim akan berdampak pada produksi tanaman kelapa sawit. Hama dan penyakit tanaman juga mengancam sektor ini.
Kemudian adalah keberlanjutan global. Dimana pasar global saat ini terus menuntut produk sawit yang legal, berkelanjutan, dan bebas deforestasi. Tentu ini terus mendorong petani untuk menyesuaikan standar perkebunan.
"Sayangnya, untuk memenuhi standar itu petani masih dihadapkan dengan permasalahan lain. Misalnya terkait legalitas lagan yang sampai saat ini belum juga tuntas," ujar Vera Virgianti selaku Kepala Bidang Produksi Disbun Riau beberapa waktu lalu.
Tantangan selanjutnya yakin digitalisasi dan teknologi. Pemanfaatan teknologi (precision farming, otomasi, data) menjadi keharusan untuk efisiensi dan daya saing.
Berikutnya yakni persaingan global. Persaingan dengan minyak nabati lain semakin ketat. Misalnya bersaing dengan minyak kedelai, bunga matahari, rapeseed yang dihasilkan oleh negara - negara lain. Sementara kebijakan dagang internasional juga bersifat dinamis.
Regenerasi petani dan kesediaan tenaga kerja juga menjadi tantangan industri kelapa sawit mendatang. Perlu adanya upaya untuk mendorong generasi muda untuk menjadi petani kelapa sawit modern. Yaitu lebih profesional dengan wawasan yang lebih luas. Sehingga pendataan petani lebih layak.
Kedepan, petani juga dituntut untuk terlibat dalam rantai hilirisasi. Sehingga petani tidak hanya menjadi pemasok bahan baku yakni TBS kelapa sawit, namun juga sebagai produsen produk berbasis kelapa sawit. Sehingga nilai tambah kembali didapat petani.
Terakhir mengenai kepatuhan regulasi yang semakin ketat. Peraturan lingkungan, ketenagakerjaan, dan tata kelola usaha semakin ketat dan memerlukan kapasitas untuk beradaptasi.
Jadi Komoditi Andalan, Begini Tantangan Kelapa Sawit Kedepan
Diskusi pembaca untuk berita ini