Jakarta, elaeis.co – Regulasi antideforestasi Uni Eropa atau European Union Deforestation Regulation (EUDR) membawa tantangan baru bagi industri sawit global.
Di satu sisi, regulasi ini mendorong produk yang lebih tertelusur dan berkelanjutan.
Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran standar tersebut justru membuat biaya pemenuhan sertifikasi semakin tinggi dan menyulitkan petani sawit rakyat mengakses pasar bernilai tinggi.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam Regional Learning Forum on Sustainable Commodities: Advancing Sustainable Cacao and Palm Oil Through Regional Learning, Partnership, and Innovation yang digelar di Jakarta pada 27–28 Agustus 2026.
Direktur Pusat Studi Perdagangan Dunia Universitas Gadjah Mada (PSPD UGM) sekaligus Chairholder WTO Chair Programme Indonesia, Dr. Maharani Hapsari, mengingatkan bahwa penerapan standar keberlanjutan global berpotensi membuat pasar sawit dunia terfragmentasi.
Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, sektor swasta, mitra pembangunan, serta pemangku kepentingan dari Indonesia, Malaysia, dan Papua Nugini tersebut, Maharani menjelaskan produk sawit yang memenuhi standar keberlanjutan dan ketertelusuran berpeluang memperoleh harga lebih tinggi.
Persoalannya, kondisi itu juga bisa menciptakan kesenjangan baru. Produk sawit yang belum memenuhi persyaratan EUDR berpotensi dialihkan ke pasar di luar Uni Eropa, seperti India, Tiongkok, serta sejumlah negara di Asia dan Afrika.
“Standar keberlanjutan yang dibuat negara tujuan ekspor jangan sampai membuat petani kecil tersisih dari pasar yang lebih menguntungkan,” ujar Maharani.
Kekhawatiran terbesar berada di tingkat petani sawit rakyat. Untuk masuk ke rantai pasok yang memenuhi standar pasar Eropa, pekebun membutuhkan data kebun yang jelas, sistem ketertelusuran, sertifikasi, serta pemenuhan berbagai persyaratan keberlanjutan.
Indonesia sebenarnya memiliki modal besar. Negara ini memiliki areal sawit rakyat yang luas dan tengah mengupayakan pengakuan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) oleh Uni Eropa.
EUDR Bikin Sawit Bersertifikat Makin Mahal, Nasib Petani Rakyat Gimana?
Diskusi pembaca untuk berita ini