Namun skema ini dinilai membutuhkan modal besar, infrastruktur logistik, hingga risiko tata kelola yang tinggi.

Kedua, DSI berfungsi sebagai platform perdagangan digital yang menghubungkan produsen, eksportir, dan pembeli global dalam satu sistem terintegrasi.

Model ini dianggap lebih realistis karena memungkinkan transparansi harga, volume, dan kualitas, sekaligus menekan potensi manipulasi transaksi.

“Dengan platform digital, transaksi lebih transparan dan bisa mengurangi misinvoicing,” ujar Tungkot.

Dalam skema jangka panjang, PASPI menilai sistem perdagangan kolektif melalui DSI dapat membuka peluang penerapan harga berbasis biaya produksi nasional (cost plus). 

Dengan posisi Indonesia sebagai pemasok utama dunia, harga yang ditetapkan dinilai berpotensi menjadi referensi global.

Saat ini, Indonesia masih mengikuti harga acuan internasional sehingga berada pada posisi price taker. 

Kondisi ini membuat harga tandan buah segar (TBS) petani sangat bergantung pada fluktuasi pasar global.

Jika Indonesia berhasil menjadi price maker, maka harga CPO dunia tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh bursa luar negeri.

Perubahan struktur perdagangan ini diperkirakan akan berdampak langsung ke jutaan petani sawit rakyat. 

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, sekitar 41 persen dari 16,8 juta hektare perkebunan sawit nasional dikelola oleh petani.

Dengan sistem harga yang lebih stabil dan terkendali, nilai TBS di tingkat petani diharapkan ikut terangkat dan tidak lagi terlalu tertekan oleh fluktuasi harga global.

Selain itu, sistem terintegrasi juga dinilai dapat memperkuat transparansi perdagangan, mengurangi praktik manipulasi nilai ekspor, serta meningkatkan penerimaan negara dari bea keluar dan pungutan ekspor.

Meski menjanjikan, sejumlah tantangan masih membayangi implementasi DSI. Di antaranya kesiapan regulasi, dukungan pelaku industri, hingga potensi respons pasar global terhadap perubahan sistem perdagangan Indonesia.

Persaingan dengan Malaysia sebagai produsen sawit terbesar kedua dunia juga menjadi faktor penting dalam dinamika harga ke depan.

Namun demikian, pemerintah tetap menargetkan DSI dapat menjadi instrumen utama untuk memperkuat posisi Indonesia dalam menentukan harga CPO dunia dalam beberapa tahun mendatang.