Jakarta, elaeis.co - Sekretaris APKASINDO Kaltim, Dari Widiyatmoko, menilai kebijakan pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) ekspor CPO ditingkatkan hingga 50 persen dapat mempengaruhi harga tandan buah segar (TBS) petani. 

"Malah tidak kecil kemungkinan menurunkan harga," kataya kepada elaeis.co, Rabu (8/2). "Bisa jadi TBS menurun harganya."

Pengaruh tersebut, lanjutnya, lantaran jumlah CPO di dalam negeri pasti akan melimpah. Sebab ekspor CPO tadi dibatasi hingga lebaran Idul Fitri 2023 mendatang.

"Seharusnya pemerintah tetap berpihak ke petani sawit untuk tetap menjaga harga TBS petani stabil.  Atau bahkan menaikan harga berkala hingga tembus Rp3000/kg," bebernya

Kendati begitu, kata Daru, petani tetap berharap adanya kenaikan DMO hingga 50% ini memberikan dampak yang positif terhadap TBS petani.

Sementara, Sekjen Gapki Eddy Martono mengutarakan untuk saat ini memang dampak terhadap TBS belum terasa. Sebab pasar internasional sedikit melemah.

"Kalau kita harga lokal CPO masih disekitar Rp 11 ribuan," tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa kebijakan pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) ekspor CPO saat ini ditingkatkan hingga 50%. Bahkan hak ekspor juga bakal didepositokan.

Dipaparkan Luhut, kenaikan yang terjadi yakni dari 300 ribu ton menjadi 450 ribu ton. Perihal ini dilakukan untuk menjaga pasokan kebutuhan dalam negeri menyambut datangnya Idul Fitri 2023 nanti.

Langkah ini juga bertujuan agar harga kebutuhan produk tersebut tetap stabil.