Banjarmasin, elaeis.co -- Guna menjawab tantangan pasar global yang semakin selektif terhadap isu legalitas dan keberlanjutan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) berkolaborasi dengan PT Trifos Internasional Sertifikasi (TRIC) menyelenggarakan Pelatihan Implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Berlangsung di Novotel Banjarmasin Airport pada 20–25 Juli 2026, kegiatan yang didanai penuh oleh BPDP ini diikuti 57 peserta dari kalangan pekebun untuk memperkuat tata kelola sawit berkelanjutan dari hulu.
Pelatihan ini tidak hanya menjadi wujud dukungan pendanaan program pengembangan sawit berkelanjutan dari BPDP, tetapi juga menjawab kebutuhan mendesak industri untuk mempercepat sertifikasi ISPO di tengah tuntutan produk sawit yang transparan dan tertelusur.
Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia terus berupaya menyeimbangkan pertumbuhan industri dengan prinsip kelestarian lingkungan dan sosial. Kehadiran ISPO berfungsi sebagai instrumen kebijakan nasional yang mewajibkan korporasi maupun pekebun swadaya memenuhi kriteria ketat—mulai dari legalitas lahan, praktik budi daya yang baik, pengelolaan lingkungan, hingga tanggung jawab sosial masyarakat.
Konsistensi penerapan ISPO terbukti krusial dalam memperkuat tata kelola perkebunan nasional, khususnya dalam aspek kepastian legalitas, transparansi produksi, serta sistem ketertelusuran (traceability) dari kebun hingga rantai pasok hilir. Faktor ketertelusuran ini kian mendesak di tengah maraknya regulasi internasional yang mensyaratkan jaminan produk bebas deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia.
Selama sepekan, para peserta dibekali materi aplikatif yang dirancang relevan dengan tantangan lapangan, meliputi pemenuhan regulasi ISPO, implementasi standar operasional, penguatan sistem ketertelusuran, hingga peningkatan kapasitas usaha. Seluruh materi disajikan oleh tim auditor dan trainer berpengalaman dari TRIC melalui kombinasi pemaparan, diskusi interaktif, serta simulasi kasus agar mudah diterapkan di lokasi usaha masing-masing.
Normansyah Hidayat Syahruddin, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hulu BPDP, menekankan bahwa aspek ketertelusuran memegang peranan vital dalam mendongkrak daya saing sawit nasional di kancah internasional. "Ketelusuran menjadi aspek penting dalam memperkuat daya saing sawit Indonesia di pasar global dan mewujudkan rantai pasok yang berkelanjutan," ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Utama TRIC, Rendy Agung Firmansyah, S.Hut., M.M., dalam sambutannya di awal acara menyampaikan gambaran umum pelaksanaan pelatihan serta optimisme terhadap peningkatan kapasitas para pekebun swadaya. Semangat tersebut turut dirangkum dalam pesan utama kegiatan: “Dari Kalimantan untuk Negeri: Menjaga Keberlanjutan Sawit, Mengubah ISPO Menjadi Investasi”.
Dukungan serupa datang dari jajaran pemerintah daerah. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Barito Kuala, Lasiman, S.ST., M.P., menilai pelatihan ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat kompetensi pekebun di daerahnya. "ISPO bukan sekadar sertifikasi, tetapi kunci daya saing dan keberlanjutan sawit Indonesia. Dengan mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh, pekebun dapat meningkatkan tata kelola, pemasaran, dan nilai tambah hasil sawit di masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, drh. Suparmi, M.S., menambahkan bahwa perkebunan sawit rakyat merupakan tulang punggung perekonomian daerah yang perlu terus didorong kapasitasnya agar selaras dengan kebijakan pemerintah. "Pembangunan kelapa sawit berkelanjutan dilakukan melalui peningkatan kapasitas pekebun, pemanfaatan pelatihan secara optimal, dan pengelolaan sawit serta limbahnya secara tepat. Upaya ini diharapkan dapat mendukung perolehan sertifikasi ISPO dan kemajuan industri sawit," katanya.
Melalui sinergi ini, BPDP dan TRIC berharap para peserta mampu mengimplementasikan standar ISPO secara konsisten—bukan sekadar menggugurkan syarat administratif audit. Langkah ini diyakini berdampak langsung pada lonjakan produktivitas, kepatuhan regulasi global, serta terbukanya akses pasar ekspor yang lebih luas. Lebih jauh, pelatihan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa keberlanjutan kini telah bertransformasi menjadi kebutuhan mutlak demi menjaga keberlangsungan industri sawit nasional dalam jangka panjang.
Di akhir acara, BPDP dan TRIC bersama seluruh narasumber dan peserta yang terlibat, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung percepatan implementasi ISPO di seluruh wilayah penghasil sawit di Indonesia. Sinergi antara lembaga pengelola dana perkebunan, lembaga sertifikasi, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci utama agar target sertifikasi ISPO dapat tercapai secara merata, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit berkelanjutan terkemuka di dunia.-
BPDP dan TRIC Perkuat Implementasi ISPO, Bekali Pekebun Hadapi Tuntutan Pasar Global
Diskusi pembaca untuk berita ini