Selalu ada filsafat di tengah kemarau keberanian (there is always a philosphy for lack of courage), ujar Albert Camus. Dan, para durjana pun bersalin wajah bak darmawan sejak pagi-pagi buta. 

Ya, sang budiman di tengah gersang kalimat yang cenderung jadi abu. Gaya Santa Claus pun menari-nari di depan rumah si papa: Para oketai yang bertaruh nyawa di antara ada dan ketiadaan.

Negara tampil berjaya dalam deret ukur “sesuatu” (die Dingen). Tapi, gagal kala dinukil dalam lipatan ihwal. Tataran “sesuatu”, baru sebatas duga-dugaan permukaan bernada kamuflase. 

Tapi, ketika masuk ke tataran ihwal (der Sachen), dia telah melampaui kelopak renjana, melompati hati yang pecah, kemiskinan berjenang.

Negara, lewat tangan Perusahaan Listrik Negara (PLN) bermurah hati melakukan ingsutan peristiwa dapur kalangan emak-emak. Peralihan dari kompor gas 3 [tiga] Kg ke kompor listrik alias induksi. 

Daya hemat yang ditawarkan amat luar biasa. Induksi memberi kemungkinan penyerapan energi secara padat (mengumpul panas lebih cepat), tanpa ada sisa buangan energi yang selama ini melayari perilaku mubazir makhluk dapur. Green energy? Owww tunggu dulu.

Alasan gergasinya adalah demi menekan subsidi gas orang miskin yang selama ini membocori anggaran negara. Bak ludah kering. Juga penghematan atas ketersediaan gas.