Tapi, jadi aneh, kala sasaran utama adalah keluarga miskin yang bersandar pada belas kasih tangan putih gas 3 Kg saja yang seturut dengan realitas adalah pengguna daya listrik 450 KVA. Pun, tumbuh rencana penghapusan daya listrik golongan ini. Namun lekas-lekas dibantah.

Kompor induksi, KVA 450, menghapus subsidi gas 3 Kg. Kata kunci kah? Atau frasa rerangkai tanpa makna? Ada makna di balik tiga key words ini: Oversupply alias kelebihan pasok listrik yang terjadi pada PLN. 

Baca juga: Queen Elizabeth II

Kelebihan ini harus disalurkan selekas dan secepat mungkin. Dari mana kisah oversupply ini? Bersumber dari mega proyek 35 GW, membebani PT. PLN selaku penyedia listrik tunggal di negara ini. Kerjasama ini terikat dalam model “ take or pay”.

Wajib bagi PLN mengambil pasokan listrik itu dari pembangkit, sesuai jumlah yang disepakati. Kalau ingkar? PLN harus membayar penalti. Ha ha ha... dari sini segala rencana strategis dan program ikutan diluncurkan; maka didoronglah pengadaan kompor listrik (induksi) bagi orang miskin dan kenderaan listrik bagi instansi pemerintahan. 

Green energy? Ooowww tunggu lagi sejenak. Apakah pembangkit (sektor hulu) listrik, sebagai pemasok,
mengguna bahan baku fosil, batubara atau energi baru terbarukan?

Tambah menarik dan serba heboh, pembagian kompor induksi gratis itu berlangsung jelang masuk tahun politik dalam nisbah calon-calon Presidenan. Partai politik menari rancak di atas panggung, jelang pemilihan anggota Parlemen secara eskalatif. 

Mereka mengalamatkannya sebagai masa-masa sosialisasi. Negara tengah menjalani sisi ketidaksadaran super kolektif. Santak suai aforisme dari Lacan mengenai ihwal ini: ”Kertidaksadaran itu terstruktur seperti bahasa”. Ketidaksadaran ini mengganggu diskursus komunikatif [bukan secara kebetulan], melainkan mengikuti unit keteraturan struktural.