Jakarta, elaeis.co -- Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi petani sawit rakyat, Koperasi Sekunder Karya Sawit Mandiri Jaya (KSMJ) di bawah naungan tujuh koperasi primer di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, sedang memperjuangkan sebuah cita-cita besar: memiliki pabrik kelapa sawit (PKS) sendiri.
Jika berhasil direalisasikan melalui dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), maka pabrik tersebut berpotensi menjadi salah satu PKS pertama di Indonesia yang dimiliki oleh petani sawit swadaya melalui kelembagaan koperasi.
Ketua KUD Tani Subur--salah satu dari tujuh koperasi primer tadi -- Sutiyana, mengatakan perjuangan menuju pembangunan PKS tersebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Berbagai persyaratan yang ditetapkan pemerintah dan BPDP telah dipenuhi secara bertahap, mulai dari legalitas lahan, perizinan lingkungan, pembentukan kelembagaan, hingga kesiapan manajemen pengelolaan.
"Kami sudah berjuang selama tiga tahun. Persyaratannya cukup berat, ada sekitar 16 syarat yang harus dipenuhi. Tapi kami terus berproses karena kami yakin ini akan menjadi lompatan besar bagi petani," ujar Sutiyana dalam perbincangan dengan elaeis.co, usai acara Media Brunch RSPO-InfoSAWIT di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.
Untuk mewujudkan proyek tersebut, seperti telah disebut di atas, tujuh koperasi primer petani sawit membentuk koperasi sekunder KSMJ sebagai wadah pengelolaan usaha bersama. Saat ini, terdapat sekitar 2.000 petani anggota koperasi dengan luas kebun sekitar 6.000 hektare yang telah memenuhi berbagai persyaratan legalitas.
Menurut Sutiyana, lahan seluas 16 hektare untuk lokasi pabrik juga telah disiapkan dan memiliki status Hak Guna Bangunan (HGB). Berbagai dokumen pendukung lainnya pun telah dilengkapi. "Semua persyaratan yang diminta pada prinsipnya sudah kami penuhi. Sekarang kami berharap proses realisasi bantuan dapat segera berjalan," katanya.
Petani tidak lagi hanya menjual TBS
Selama ini, sebagian besar petani sawit rakyat hanya berada di ujung rantai pasok sebagai penjual tandan buah segar (TBS). Setelah buah dipanen, nilai tambah terbesar justru dinikmati oleh sektor pengolahan dan hilirisasi. Kondisi tersebut membuat posisi tawar petani relatif lemah, terutama ketika harga TBS mengalami tekanan.
Karena itu, pembangunan PKS dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah yang dinikmati petani. Ia menegaskan bahwa petani tidak boleh selamanya hanya menjadi pemasok bahan baku.
Menurutnya, keberadaan PKS di tengah sentra kebun rakyat akan memangkas biaya transportasi, memperpendek rantai pasok, dan memperkuat posisi tawar petani terhadap pasar.
"Kalau pabrik berada dekat dengan kebun petani, biaya angkut bisa ditekan. Petani juga memperoleh posisi yang lebih kuat karena tidak hanya menjual buah, tetapi ikut memiliki fasilitas pengolahannya," ujarnya.
Lebih jauh lagi, ia berharap PKS tersebut nantinya dapat menjadi pabrik yang memasok minyak sawit dari petani yang telah menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan dan sertifikasi.
Investasi pabrik Rp120 miliar
Mewujudkan mimpi tersebut tentu tidak murah. Sutiyana mengungkapkan nilai investasi pembangunan PKS diperkirakan mencapai sekitar Rp120 miliar. Jika ditambah kebutuhan operasional dan infrastruktur pendukung lainnya, total kebutuhan investasi dapat mencapai sekitar Rp250 miliar.
Meski demikian, para petani tetap menunjukkan komitmen yang tinggi. Hingga saat ini, koperasi telah mengeluarkan dana hampir Rp5 miliar dari sumber daya sendiri untuk memenuhi berbagai persyaratan administrasi dan teknis yang dibutuhkan.
"Semangat petani luar biasa. Kami sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mempersiapkan semuanya. Karena kami percaya ini akan menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan petani," katanya.
Menurut Sutiyana, dukungan BPDP sangat penting karena proyek seperti ini sulit diwujudkan hanya mengandalkan kemampuan modal petani. Namun ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan petani bukanlah bantuan tunai semata.
"Jangan berikan uang kepada kami. Berikan kami pabriknya. Kalau pabrik ini berdiri, manfaatnya akan terus dirasakan oleh petani dalam jangka panjang," ujarnya.
Menjadi model baru sawit rakyat
Selain memberikan nilai tambah ekonomi, keberhasilan pembangunan PKS petani diyakini akan menjadi model baru pengembangan sawit rakyat di Indonesia. Selama ini, berbagai program penguatan petani lebih banyak difokuskan pada peningkatan produktivitas kebun, peremajaan sawit rakyat (PSR), maupun sertifikasi keberlanjutan.
Padahal penguasaan sektor pengolahan dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani secara lebih signifikan. Sutiyana optimistis model yang sedang mereka bangun dapat direplikasi di berbagai daerah lain apabila mendapat dukungan yang memadai.
Apalagi, pengalaman KUD Tani Subur menunjukkan bahwa petani mampu mengelola organisasi secara profesional. Dari sekitar 300 anggota pada masa awal sertifikasi RSPO, jumlah anggota koperasi kini telah berkembang menjadi sekitar 1.400 petani yang aktif dan terus bertambah.
"Kami ingin membuktikan bahwa petani Indonesia mampu maju dan mengelola usaha yang lebih besar. Kalau ini berhasil, manfaatnya bukan hanya untuk anggota koperasi kami, tetapi bisa menjadi contoh bagi petani sawit di seluruh Indonesia," Sutiyana menegaskan.-
KUD Karya Sawit Mandiri Jaya Perjuangkan PKS Milik Petani, Investasi Capai Rp120 Miliar
Diskusi pembaca untuk berita ini