https://www.elaeis.co

Berita / Pojok /

Tragedi yang Disengaja

Tragedi yang Disengaja

Ilustrasi menggunakan AI


Oleh: Prof. Sudarsono Soedomo*) 

Garrett Hardin mengajarkan satu pelajaran pahit: jika sebuah sumber daya dimiliki bersama, dapat diakses bebas, dan setiap orang bertindak rasional demi kepentingannya sendiri, maka kehancuran kolektif hanyalah soal waktu. Ia menyebutnya the tragedy of the commons. Padang rumput habis, ikan punah, hutan gundul. Semua orang bertindak masuk akal, dan justru karena itu semua orang celaka.

Elinor Ostrom datang membawa kabar baik. Manusia ternyata tidak selalu jatuh ke jurang itu. Dengan aturan lokal, norma sosial, sanksi bertahap, dan mekanisme pengawasan yang disepakati bersama, komunitas dapat mengelola sumber daya bersama tanpa tragedi. Dalam dunia Ostrom, commons bukan kutukan, melainkan proyek sosial yang mungkin berhasil.

Sejak itu, dunia akademik terasa nyaman: Hardin si pesimis, Ostrom si optimis.
Tragedi versus harmoni. Gagal versus berhasil. Masalahnya, dunia nyata tidak pernah serapi itu.

Dalam A Simple Model to Bridge Hardin’s Tragedy and Ostrom’s Comity, Soedomo mengusulkan cara pandang yang lebih tenang dan, ironisnya, lebih mengganggu: Hardin dan Ostrom tidak sedang berdebat tentang dua dunia yang berbeda. Mereka sedang membicarakan dua keadaan dari sistem yang sama.

Tragedi dan komitas bukan perbedaan moral. Bukan soal manusia baik atau jahat. Keduanya adalah rezim institusional yang muncul dari kombinasi parameter tertentu: biaya koordinasi, kekuatan aturan, efektivitas sanksi, dan kepatuhan aktor.

Jika parameter-parameter itu berada di satu wilayah, sistem jatuh ke rezim Hardin. Jika bergeser sedikit saja ke wilayah lain, sistem berpindah ke rezim Ostrom. Yang paling penting: perpindahan ini dapat terjadi tanpa perubahan niat siapa pun. 

Inilah bagian yang sering luput dari perdebatan publik. Banyak tragedi tidak lahir dari keserakahan massal, melainkan dari kesalahan kecil yang tidak disengaja. Sedikit salah memperkirakan daya dukung. Sedikit terlalu optimistis tentang regenerasi. Sedikit terlambat menyesuaikan aturan ketika teknologi berubah. Semua aktor tetap rasional. Semua aturan masih ditaati. Tidak ada yang merasa melanggar apa pun.

Namun dalam bahasa model, sistem telah melewati ambang kritis. Parameter bergeser pelan, tetapi hasilnya meloncat drastis. Ekuilibrium berubah. Tragedi pun muncul “tiba-tiba”. Dengan kata lain: tragedi sering kali adalah kegagalan epistemik, bukan kegagalan moral. 

Sekarang mari kita beralih ke pasar — tempat di mana tragedi justru dirancang dengan sadar. Pasar memenuhi definisi common pool resource: non-excludable (semua produsen boleh masuk) dan rivalry (permintaan terbatas). Ketika terlalu banyak produsen masuk, laba tergerus. Semua bekerja keras, tetapi keuntungan menipis. Ini tragedi versi Hardin.

Namun di pasar, tragedi ini bukan kegagalan kebijakan. Ia adalah tujuan kebijakan. Regulasi anti-monopoli secara sadar mendorong pasar ke rezim Hardinian: banyak pemain, persaingan ketat, margin tipis. Produsen saling menggerus, konsumen diuntungkan.

Dalam konteks ini, pendekatan ala Ostrom justru berbahaya. Jika produsen terlalu rukun, terlalu terkoordinasi, terlalu “beretika”, maka yang muncul bukan harmoni sosial, melainkan kartel. Negara lalu turun tangan — bukan untuk menyelamatkan komitas, tetapi untuk menghancurkannya secara legal. 

Paradoksnya jelas: Dalam ekologi, tragedi harus dicegah. Dalam pasar, tragedi harus diciptakan.

Hardin mengingatkan kita pada logika kehancuran. Ostrom menunjukkan kemungkinan keberlanjutan. Pendekatan Soedomo menambahkan satu lapisan yang lebih sunyi tetapi krusial: logika perpindahan rezim.

Tragedi dan non-tragedi bukan hitam dan putih. Keduanya adalah hasil dari desain institusi, kesesuaian parameter, dan ketepatan membaca perubahan. Sering kali, tragedi yang paling berbahaya bukan tragedi yang direncanakan, melainkan yang muncul ketika semua orang merasa sistem sudah berjalan dengan baik, karena pada saat itulah, tidak ada yang berjaga di dekat ambang!
*)Guru Besar Ekonomi Lingkungan dan Kehutanan IPB
 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :