Pekanbaru, elaeis.co - Lebih dari 200 orang petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), sejumlah pejabat penting pemerintah dan swasta ngariung virtual di zoom video communications yang berbasis di San Jose California Amerika Serikat itu, Selasa (19/5).

Lebih dari tiga jam mereka memelototi perangkat lunak masing-masing demi membahas Program Sawit Rakyat (PSR). Maklum, target tiga tahun ke depan ini tidak main-main; 500 ribu hektar!

Angka itu bersumber dari total 2,78 juta hektar potensi PSR (41 persen) di hamparan kebun kelapa sawit milik rakyat yang sampai saat ini tercatat seluas 6,72 juta hektar. 

Bahwa banyak orang tidak mengerti apa dan seperti apa seluk beluk PSR, menjadi unek-unek terbanyak yang dikirim petani ke panitia rapat virtual. Tak tanggung-tanggung, mencapai 668 chat. Unek-unek ini kemudian menjadi salah satu bahasan penting dari sederet poin yang dibahas. 

"Banyak pejabat di daerah enggak ngerti dengan PSR ini, ada yang menganggap ini duit proyek APBN dan tak sedikit pula yang menyalahgunakan program ini untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Alhasil muncul berbagai intervensi, baik itu kepada kelompok tani/KUD maupun bank penyalur duit PSR tadi," kata tenaga ahli utama Kantor Staf Presiden (KSP), Mayor Jenderal (Purn) Erro Kusnara yang lebih dahulu didapuk berbicara.

Apa yang disebut oleh mantan Komandan Korem 031 Wira Bima ini tak berlebihan. Sebab baru-baru ini mencuat ke permukaan persoalan yang ada di Sei Pakning Kabupaten Bengkalis, Riau. 

Di sana, ada oknum rekanan PSR yang mengintervensi Bank Riau Kepri untuk mencairkan duit hingga 50 persen dari total duit PSR, padahal pekerjaan belum dimulai. 

Lantas ada pula cerita dari Darmaseraya Provinsi Sumatera Barat bahwa segala bentuk pencairan duit PSR harus melalui dinas setempat atau pendamping yang sudah diintervensi oleh pihak tertentu.

Tak aneh kalau Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Dirjanbun), Kasdi Subagyono, Direktur Penghimpunan Dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Sunari, semakin menyimak setelah mendengar unek-unek itu. 

Sebab ternyata persoalan makin bertambah. Tadinya persoalan yang disebut Kasdi masih seputar sejumlah petani peserta PSR memulangkan duit lantaran tak paham alur PSR dan tahan oleh intervensi pihak tertentu.

Petani yang memulangkan duit itu beranggapan dari pada bermasalah kelak, lebih baik duit itu dikembalikan. "Toh juga pohon kelapa sawit kami masih bisa menghasilkan walau tinggal cukup makan," begitulah salah satu cara petani menghibur diri.

Meski diwarnai deretan masalah tadi, dalam pertemuan panjang virtual yang dipandu oleh Sekjen DPP Apkasindo, Rino Afrino itu, mantan Dirjenbun, Prof Agus Pakpahan tetap mengingatkan bahwa PSR saat ini adalah cikal bakal generasi kedua perkelapasawitan Indonesia. 

Lantaran sudah punya pengalaman di 25 tahun di generasi pertama kata Agus, PSR kali ini enggak lagi hanya sekadar menanam ulang, 

"Tapi gimana sawit generasi kedua menjadi lebih baik lagi, inklusif dan cerdas, itu yang paling penting. Sawit sudah harus jadi modal bagi petani untuk masuk ke industrialisasi. Pada generasi pertama petani belum kaya karena hanya menjual TBS, di generasi kedua harus bisa menjadi bagian dari industri kelapa sawit itu," katanya.

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung pun mengingatkan keluarga besar Apkasindo bahwa program PSR adalah kesempatan emas bagi petani Indonesia; now or never!

Semakin gampangnya prosedur yang dibikin oleh Dirjenbun dan BPDPKS kata Gulat, tidak lagi menjadi alasan bagi petani untuk tidak move on, petani malah harus hijrah menjadi petani CPO. 

"Dulu syaratnya sampai 14 item, lalu dikerucutkan menjadi 8 item. Nah sejak Pak Kasdi jadi Dirjenbun, syarat itu tinggal dua item; petani musti punya kelembagaan dan punya surat tanah alias legalitas kepemilikan. Kalau kesempatan ini enggak diambil, itu kebangetan namanya, berarti gak ada niat. Tak ada perjalanan yang tidak diwarnai rintangan. Mau menghadapi rintangan itu, itulah menjadi bukti kalau petani kelapa sawit Indonesia adalah petarung sejati," tegasnya.

Abdul Aziz