Berita / Bisnis /
Plus Minus Sawit Sepanjang Pandemi
Ketua Umum GAPKI, Joko Supriyono. Foto: tangkapan layar zoom
Jakarta, elaeis.co - Kalau ditengok dari angka-angka yang disodorkan Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Joko Supriyono pada konfrensi pers virtual dua hari lalu, Virus Corona sempat juga menghantam pergerakan kelapa sawit di semester pertama tahun lalu.�
Dari Januari sampai Mei, sudahlah angka ekspor turun, harga Crude Palm Oil (CPO) pun melandai hingga USD526 perton. Padahal, di akhir tahun 2019, pelaku ekspor sudah sempat sumringah lantaran harga CPO Cif Rotterdam sudah mencapai angka USD787.
Melorotnya harga tadi kata Joko lantaran sejumlah negara tujuan utama ekspor memberlakukan lockdown ulah pandemi Covid-19. China, Bangladesh, Timur Tengah, Uni Eropa, Afrika dan USA mengalami penurunan permintaan, sementara Pakistan dan India naik. Panen kedelai di Brazil dan anjloknya harga minyak fosil juga mempengaruhi penurunan permintaan itu.�
"Secara keseluruhan ekspor CPO dan turunannya di 2020 turun 9,04%. Ini lantaran pasar globar yang distraksi tadi. Hanya saja, meski ekspor turun, secara neraca keuangan justru naik," ujar Joko.�
Tahun 2020 nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai USD22,97 miliar. Sementara surplus non migas secara keseluruhan USD27,67 miliar. Kalau diakumulasi dengan devisit migas USD5,95 miliar, maka surplus menjadi USD 21,7 miliar. "Kalau sawit enggak ada, neraca keuangan ekspor akan devisit," kata Joko.�
Di dalam negeri, produksi CPO dan Palm Kernel Oil (PKO) juga mengalami penurunan di angka 1,1%. Dari sekitar 52,184 juta ton 2019, menjadi 51,627 juta ton di 2020.
Sebetulnya konsumsi pangan di dalam negeri turun 14,5 persen. Namun oleh pergerakan positif Oleokimia dan Biodiesel, pemakaian domestik secara keseluruhan tumbuh 36%. "Yang amazing itu oleokimia naik 60% dibanding 2019. Ini terjadi lantaran permintaan untuk disinfektan dan sabun," katanya.�
Wakil Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (APROBI), Suwandi Winardi menyebut kalau sepanjang tahun 2020, total produksi biodiesel mencapai 8,59 juta kiloliter.�
Dari total produksti itu, distribusi domestik mencapai 8,4 juta kiloliter dan ekspor hanya 27 ribu kiloliter.�
Ekspor ini kecil kata Suwandi lantaran kondisi pasar yang tidak memungkinkan untuk ekspor. Untunglah kemudian pemerintah mau mengalikan produksi itu ke pasar domestik.�
"Tahun ini pemerintah membikin target 9,2 juta kiloliter. Mudah-mudahan ini bisa tercapai 100% meski kita masih dihadapkan pada tantangan operasional, teknis dan logistik," katanya.�
Di sisi lain Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemicals Indonesia (APOLIN), Rapolo Hutabarat menyebut kalau prospek oleokimia akan membaik di tahun ini lantaran adanya program vaksinasi global.�
Tahun ini, GAPKI memproyeksikan angka produksi CPO dan PKO di angka 53,9 juta ton. Kebutuhan domestik dan ekspor juga diproyeksikan di angka 56 juta ton. "Ini bergantung pada program vaksin global tadi. Kalau vaksin cepat beres, pasar akan cepat recovery," ujar Joko.

Komentar Via Facebook :