Berita / Iptek /
Mesin Fastrex IPB Bantu Panen Sawit, Angkut 15 Ton TBS Sehari
Bogor, elaeis.co – Upaya memperkuat kemandirian alat dan mesin pertanian (alsintan) nasional terus bergulir dari ruang riset ke lapangan.
IPB University menghadirkan Fastrex, mesin transporter tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang mampu mengangkut hingga 15 ton per hari dan setara dengan kerja 5–7 pekerja manual.
Fastrex dikembangkan oleh Prof. Desrial, Guru Besar Teknik Mesin Pertanian IPB University. Mesin ini dirancang khusus untuk menjawab tantangan nyata di perkebunan sawit Indonesia, mulai dari kondisi tanah lunak, jalur sempit, hingga kontur lahan yang tidak rata.
“Dalam pengujian lapangan, Fastrex mampu mengangkut sekitar 10 sampai 15 ton TBS per hari,” ujar Prof. Desrial.
Menurutnya, kapasitas tersebut setara dengan pekerjaan lima hingga tujuh tenaga angkut manual menggunakan angkong.
Di banyak perkebunan sawit, proses pengangkutan TBS masih menjadi titik krusial. Keterbatasan alat membuat buah kerap menumpuk di kebun, sementara ketersediaan tenaga kerja semakin terbatas. Kondisi ini berdampak langsung pada keterlambatan panen dan penurunan kualitas hasil.
Fastrex hadir untuk mempercepat alur panen sekaligus mengurangi beban fisik pekerja. Dengan desain yang adaptif terhadap medan, mesin ini dinilai mampu menjaga produktivitas kebun tetap stabil meski dihadapkan pada tantangan lapangan yang berat.
Tak berhenti sebagai prototipe, Fastrex telah berhasil dikomersialkan. Keberhasilan ini menandai proses hilirisasi riset IPB University menjadi produk industri alsintan dalam negeri. Langkah tersebut dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap mesin pertanian impor.
Selain Fastrex, Prof. Desrial juga mengembangkan berbagai inovasi lain, seperti traktor pintar dan sistem otomasi pertanian presisi berbasis navigasi dan kendali otomatis.
Teknologi ini memungkinkan lintasan kerja yang lebih akurat, efisiensi penggunaan input produksi, serta menekan ketergantungan pada operator dengan keterampilan tinggi.
“Inovasi-inovasi ini menjadi pijakan menuju pertanian cerdas dan digital di Indonesia,” katanya.
Dalam konteks global, Prof. Desrial menyebut China sebagai produsen alsintan terbesar dunia, sementara Amerika Serikat unggul dalam penguasaan teknologi. Di Asia, India menempati posisi tiga besar produsen alsintan dunia berkat kebutuhan domestik yang besar dan skala produksi masif.
Sementara itu, Indonesia dinilai masih tertinggal. Meski memiliki lahan pertanian luas, sebagian besar mesin pertanian nasional masih bergantung pada impor, terutama untuk komponen utama seperti mesin penggerak.
“Tantangan terbesar bukan pada SDM. Indonesia punya kapasitas rekayasa yang baik. Yang perlu diperkuat adalah ekosistem industri, dukungan kebijakan, dan kolaborasi antara kampus, industri, serta pemerintah,” ujar Prof. Desrial.
Fastrex menjadi contoh konkret bahwa inovasi lokal mampu bersaing dan menjawab kebutuhan lapangan. Lebih dari sekadar mesin angkut sawit, Fastrex mencerminkan arah baru mekanisasi pertanian Indonesia yang lebih mandiri, adaptif, dan berbasis kondisi nyata di lapangan.







Komentar Via Facebook :