Jakarta, elaeis.co – Peluang cuan dari saham sawit disebut belum habis. Di tengah mulai berlakunya program biodiesel B50 dan ancaman El Nino yang diperkirakan memangkas produksi sawit, sejumlah analis menilai harga minyak sawit mentah (CPO) masih berpeluang bertahan tinggi. Kondisi ini dinilai bisa menjadi "angin segar" bagi emiten sawit.

Retail Research Analyst CGS Sekuritas Indonesia Andrian A. Saputra mengatakan ada dua "senjata" yang saat ini menopang prospek saham-saham sawit, yakni pasokan yang diperkirakan makin ketat akibat El Nino dan lonjakan permintaan CPO setelah pemerintah menjalankan program B50.

Baca Juga: Dua Saham Sawit Ini Jadi Jagoan Analis di Semester II 2026, Sudah Punya?

Menurutnya, El Nino berpotensi menurunkan hasil panen kelapa sawit, bukan hanya di Indonesia tetapi juga Malaysia sebagai dua produsen sawit terbesar dunia. Meski dampaknya baru benar-benar terasa sekitar satu tahun setelah musim kering, pasar biasanya sudah lebih dulu bereaksi.

"Begitu pasar mencium pasokan bakal berkurang, harga CPO biasanya mulai bergerak naik. Sentimen seperti ini sering menjadi bahan bakar bagi saham-saham sawit," ujar Andrian, Sabtu (1/8). 

Tak hanya dari sisi pasokan, permintaan CPO juga diprediksi makin kuat. Penyebabnya adalah implementasi B50 yang membuat kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel meningkat. Jika konsumsi dalam negeri naik, pasokan untuk ekspor otomatis berkurang sehingga harga CPO berpeluang tetap tinggi.

Menurut Andrian, situasi tersebut menjadi kabar baik bagi perusahaan sawit. Harga CPO yang tinggi biasanya langsung berdampak pada naiknya harga jual, laba perusahaan, hingga keuntungan yang bisa dinikmati investor.

"Kalau harga CPO terus bertahan tinggi, margin dan profit emiten sawit juga ikut terdongkrak," katanya.

Ia menyebut ada beberapa emiten yang diperkirakan paling diuntungkan dari kondisi tersebut, yakni PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG).

Dalam riset CGS Sekuritas Indonesia, saham AALI masih direkomendasikan hold dengan target harga Rp6.775 per saham. Sementara DSNG mendapat rekomendasi add dengan target harga Rp1.640, sedangkan TAPG dipatok memiliki target harga Rp1.920 per saham.

Andrian menegaskan, kombinasi program B50 dan dampak El Nino diperkirakan menjadi penopang utama harga CPO hingga beberapa waktu ke depan.

"Implementasi B50 dan faktor El Nino diharapkan bisa mendongkrak atau setidaknya menjaga harga CPO tetap stabil. Ini menjadi katalis positif bagi saham-saham sawit," tutupnya.